Jakarta – Pemerintah Indonesia resmi menjalin kolaborasi dengan mitra asal China untuk mengembangkan ekosistem industri baterai nasional. Kerja sama ini melibatkan PT Aneka Tambang Tbk (Antam), Industri Baterai Indonesia (IBI), serta konsorsium HYD yang dipimpin Zhejiang Huayou Cobalt Co.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa penandatanganan kerangka kerja sama proyek tersebut telah dilakukan di Kantor Kementerian ESDM. Proyek yang diberi nama Titan ini diperkirakan menyedot investasi sebesar US$7–8 miliar atau setara Rp116,9 triliun hingga Rp133,6 triliun.
Bahlil menjelaskan, proyek Titan merupakan kelanjutan dari pengembangan tahap awal berkapasitas 10 gigawatt (GW) yang telah mulai beroperasi sejak 2023. Dengan tambahan investasi ini, kapasitas produksi baterai nasional akan meningkat signifikan.
Sebelumnya, proyek ini direncanakan dikerjakan bersama investor dari Korea Selatan, LG. Namun karena progres yang dinilai kurang cepat, pemerintah memutuskan menggandeng mitra baru dari China. Peletakan batu pertama proyek ditargetkan berlangsung pada semester pertama 2026 di dua wilayah berbeda.
Fasilitas produksi baterai kendaraan listrik akan dibangun di Jawa Barat, sementara smelter, pabrik prekursor katoda, dan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara, menyesuaikan dengan keberadaan tambang nikel di kawasan tersebut.
Melalui proyek ini, Indonesia diproyeksikan menjadi negara dengan ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu hingga hilir terbesar kedua di dunia setelah China. Bahlil optimistis Indonesia mampu menjadi pemain utama global dalam penyediaan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Pemerintah, kata Bahlil, akan tetap memegang kendali mayoritas saham dalam proyek tersebut, dengan porsi kepemilikan di atas 50 persen. Hal ini dilakukan agar pengelolaan sumber daya alam memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.
Selain memperkuat industri nasional, proyek ini juga mendukung agenda transisi energi bersih. Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, Indonesia diharapkan dapat menekan impor serta beban subsidi bahan bakar minyak (BBM).
Bahlil menegaskan, konversi kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik menjadi langkah penting menuju ketahanan energi nasional. Namun, ia menekankan pentingnya memastikan bahwa baterai kendaraan listrik tersebut diproduksi di dalam negeri agar manfaat ekonominya benar-benar dirasakan Indonesia. (A18)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini