Dari sisi belanja, pemerintah tidak menginjak rem. Realisasi belanja negara hingga April 2026 telah menembus Rp1.000 triliun, tumbuh signifikan 34,3% secara year-on-year.
Lonjakan ini terutama didorong oleh Belanja Kementerian/Lembaga yang melonjak hingga 57,9%.
Pemerintah menyebut percepatan belanja ini disengaja agar daya dorong APBN terhadap perekonomian dapat dirasakan merata sepanjang tahun.
Subsidi energi termasuk BBM dipastikan tetap dipertahankan hingga akhir tahun demi menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.
Hasilnya, postur fiskal per April 2026 memperlihatkan perbaikan nyata.
Defisit APBN menyusut menjadi Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB — membaik dibandingkan defisit Maret 2026 yang sempat menyentuh 0,93% dari PDB.
Menkeu juga meluruskan analisis sejumlah pihak yang mengkalkulasi defisit secara linier.
“Maret kemarin defisit 0,93%, analis bilang kalau dikali empat setahun bisa 3,6%, itu hitungan ajaib. Sekarang April defisit turun ke 0,64%,” jelasnya.
Menutup pemaparannya, Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah terus bersinergi dengan Bank Sentral untuk menjaga likuiditas sistem keuangan guna mendukung sektor riil dan swasta.
Memasuki triwulan kedua, pemerintah optimistis laju pertumbuhan ekonomi akan semakin terakselerasi, didukung antara lain oleh rencana peluncuran insentif tambahan untuk kendaraan listrik — baik mobil maupun motor — pada periode April hingga Juni 2026 sebagai stimulus perekonomian nasional. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini