Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 18 Mei 2026 |17:55 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15225 15200 (TON) 15170 (AGM) 15300 EUP ACC
N4 N4 (N4)
Vol: 0.5K · DMI
15225 15170 (AGM) 15150 (IBP) 15300 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · LOCO PARINDU
15225 15170 (AGM) 15150 (IBP) 15300 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · FOB PALOPO
14785 14550 (PBI) 14445 (MNA) 14950 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI dengan ACC di level 15.300. Persaingan harga masih kompetitif antar bidder. Tender LOCO PARINDU berakhir WD, sementara tender FOB PALOPO belum terdapat bidder.
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

APBN April 2026 Solid, Penerimaan Pajak Tumbuh 16,1% — Menkeu Bantah Daya Beli Masyarakat Melemah

apbn
Menteri Keuangan Purbaya. (Foto: Kemenkeu)

Dari sisi belanja, pemerintah tidak menginjak rem. Realisasi belanja negara hingga April 2026 telah menembus Rp1.000 triliun, tumbuh signifikan 34,3% secara year-on-year.

Lonjakan ini terutama didorong oleh Belanja Kementerian/Lembaga yang melonjak hingga 57,9%.

Advertisement

Pemerintah menyebut percepatan belanja ini disengaja agar daya dorong APBN terhadap perekonomian dapat dirasakan merata sepanjang tahun.

Subsidi energi termasuk BBM dipastikan tetap dipertahankan hingga akhir tahun demi menjaga stabilitas sosial dan ekonomi.

Hasilnya, postur fiskal per April 2026 memperlihatkan perbaikan nyata.

Defisit APBN menyusut menjadi Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB — membaik dibandingkan defisit Maret 2026 yang sempat menyentuh 0,93% dari PDB.

Menkeu juga meluruskan analisis sejumlah pihak yang mengkalkulasi defisit secara linier.

“Maret kemarin defisit 0,93%, analis bilang kalau dikali empat setahun bisa 3,6%, itu hitungan ajaib. Sekarang April defisit turun ke 0,64%,” jelasnya.

Menutup pemaparannya, Purbaya menyampaikan bahwa pemerintah terus bersinergi dengan Bank Sentral untuk menjaga likuiditas sistem keuangan guna mendukung sektor riil dan swasta.

Memasuki triwulan kedua, pemerintah optimistis laju pertumbuhan ekonomi akan semakin terakselerasi, didukung antara lain oleh rencana peluncuran insentif tambahan untuk kendaraan listrik — baik mobil maupun motor — pada periode April hingga Juni 2026 sebagai stimulus perekonomian nasional. (A08)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini