Jakarta, Sinata.id β Pasien yang pernah mengalami stroke memiliki risiko tinggi terserang kembali, bahkan dengan tingkat keparahan yang dapat lebih berat dari serangan pertama. Kondisi ini terjadi karena kerusakan jaringan otak sebelumnya belum sepenuhnya pulih saat serangan berikutnya muncul.
Dokter spesialis saraf dari Departemen Neurologi FKUI-RSCM, Prof dr Teguh Ranakusuma, SpS(K), menjelaskan bahwa stroke berulang kerap berujung pada kecacatan lebih berat hingga kematian. βOrang yang sudah kena stroke memiliki kemungkinan tinggi terkena stroke lagi. Itulah sebabnya penanganan pasien stroke harus hati-hati,β ujarnya dikutip dariΒ detik.com
Menurutnya, terapi yang diberikan di rumah sakit-baik melalui tindakan operasi maupun pemberian obat seperti pengencer darah-bertujuan menyelamatkan fungsi tubuh yang masih dapat dipertahankan.
Penanganan tersebut tidak serta-merta menghilangkan risiko serangan ulang. Jika gejala kembali muncul, hal itu dapat mengindikasikan faktor risiko belum terkendali secara optimal.
Secara medis, setiap serangan stroke menyebabkan gangguan pada suplai darah ke otak. Ketika serangan kedua atau berikutnya terjadi, area otak yang sudah terdampak sebelumnya menjadi lebih rentan. Akibatnya, gangguan fungsi tubuh dapat semakin luas dan berat.
Faktor risiko yang tidak terkontrol menjadi penyebab utama stroke berulang. Tekanan darah tinggi, misalnya, meningkatkan risiko stroke hingga empat sampai enam kali lipat. Selain itu, kebiasaan merokok dapat memicu pembekuan darah, sementara kadar kolesterol tinggi berkontribusi terhadap pembentukan plak di pembuluh darah.
Upaya pencegahan difokuskan pada pengendalian faktor-faktor tersebut. Pasien dianjurkan mengubah pola hidup, termasuk mengurangi konsumsi garam, membatasi makanan berlemak dan daging merah, serta memperbanyak asupan sayur, buah, dan air putih. Penghentian kebiasaan merokok dan pengawasan rutin tekanan darah juga menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Tenaga medis menekankan bahwa pengelolaan pascastroke memerlukan pemantauan berkelanjutan. Tanpa pengendalian risiko yang konsisten, kemungkinan terjadinya serangan ulang tetap terbuka dan dapat berdampak lebih fatal dibandingkan kejadian pertama. (A58)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini