BUDAPEST, Sinata.id – Arsenal hanya berjarak satu pertandingan dari sejarah.
Setelah sukses mengakhiri puasa gelar Liga Inggris, pasukan Mikel Arteta kini mengincar trofi Liga Champions pertama dalam sejarah klub saat menghadapi Paris Saint-Germain (PSG) di final musim 2025-2026.
Namun, tugas yang menanti tidaklah mudah. Di hadapan mereka berdiri PSG, juara bertahan yang datang dengan status tim paling produktif di kompetisi musim ini.
PSG telah mencetak 44 gol sepanjang perjalanan mereka menuju final, jauh mengungguli Arsenal yang mengoleksi 29 gol.
Sebaliknya, The Gunners memiliki pertahanan paling kokoh di turnamen dengan sembilan clean sheet, terbanyak dibanding tim lainnya.
Pertarungan ini pun dianggap sebagai duel klasik antara serangan terbaik melawan pertahanan terbaik, sebagaimana diulas BBC Sport, Sabtu (30/5/2026).
Merino Bisa Jadi Senjata Rahasia
Salah satu strategi yang kemungkinan kembali digunakan Arteta adalah menempatkan gelandang serang sebagai penyerang bayangan.
Musim lalu, saat menghadapi PSG di semifinal, Arsenal cukup sukses menggunakan Mikel Merino sebagai false nine.
Pergerakan Merino yang sering turun ke lini tengah membuat pertahanan PSG kesulitan menentukan penjagaan.
Ketika Merino meninggalkan posisinya di lini depan, bek tengah PSG enggan mengikutinya.
Situasi itu menciptakan keunggulan jumlah pemain Arsenal di lini tengah dan membantu mereka keluar dari tekanan tinggi yang menjadi ciri khas tim asuhan Luis Enrique.
Selain Merino, Kai Havertz juga dinilai cocok menjalankan peran tersebut.
Keduanya memiliki kemampuan menahan bola, memenangkan duel udara, dan membuka ruang bagi rekan-rekan setimnya.
Berani Bermain di Area Sempit
Arsenal selama ini dikenal lebih nyaman menyerang melalui sisi lapangan dan mengandalkan umpan silang. Namun menghadapi PSG, pendekatan itu mungkin tidak cukup.
Beberapa tim seperti Chelsea, Bayern Munchen, dan Lens berhasil merepotkan PSG dengan bermain cepat di area tengah yang sempit.
Strateginya sederhana namun berisiko tinggi. Para pemain ditempatkan berdekatan untuk menarik tekanan lawan, sebelum melepaskan bola ke area kosong yang ditinggalkan pemain PSG.
Pemain-pemain seperti Bukayo Saka, Martin Odegaard, Kai Havertz, Leandro Trossard, Martin Zubimendi, dan Eberechi Eze memiliki kualitas teknik yang dibutuhkan untuk memainkan pola tersebut.










Jadilah yang pertama berkomentar di sini