Jakarta, Sinata.id – Spesies manusia purba Homo habilis kembali menjadi sorotan setelah penemuan fosil baru memicu perdebatan di kalangan ilmuwan paleoantropologi.
Fosil yang dideskripsikan para peneliti pada Januari 2026 tersebut disebut sebagai kerangka Homo habilis paling lengkap yang pernah ditemukan. Temuan ini membuka pandangan baru mengenai anatomi spesies yang hidup sekitar 2,4 juta hingga 1,65 juta tahun lalu.
Sebelumnya, ilmuwan hanya memiliki tiga kerangka tidak lengkap sehingga bentuk fisik Homo habilis masih menjadi misteri.
Kerangka baru berusia sekitar 2 juta tahun itu menunjukkan bahwa Homo habilis memiliki lengan panjang menyerupai kera. Temuan tersebut membuat sejumlah ilmuwan mempertanyakan apakah spesies ini benar-benar layak dimasukkan ke dalam genus Homo atau kelompok manusia.
Ahli paleoantropologi dari George Washington University, Bernard Wood, mengatakan definisi genus Homo kemungkinan selama ini diperluas terlalu jauh.
“Semakin banyak fosil ditemukan, definisi genus Homo terus berkembang. Bisa jadi selama ini definisinya diperluas terlalu jauh,” ujarnya.
Homo habilis dan Perdebatan Evolusi Manusia
Homo habilis pertama kali diperkenalkan ke dunia ilmiah pada 1964 setelah penemuan fosil di Tanzania pada 1960-an. Spesies ini selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu nenek moyang awal manusia modern.
Nama Homo habilis sendiri berarti “manusia terampil” karena spesies ini diyakini telah mampu menggunakan alat sederhana.
Namun, temuan terbaru menunjukkan bentuk lengan Homo habilis sangat mirip dengan australopithecus, kelompok manusia purba yang masih memiliki banyak ciri kera.
Ahli paleoantropologi dari American Museum of Natural History, Ian Tattersall, menilai lengan panjang tersebut menjadi indikasi kuat bahwa Homo habilis mungkin bukan bagian dari genus Homo.
Bersama arkeolog Mark Collard, Bernard Wood bahkan pernah mengusulkan agar Homo habilis dipindahkan ke genus australopithecus dan diberi nama baru Australopithecus habilis.
Meski demikian, tidak semua ilmuwan sepakat dengan pandangan tersebut.
Antropolog dari University of Missouri, Carol Ward, menilai bentuk lengan panjang belum cukup menjadi alasan untuk mengeluarkan Homo habilis dari genus Homo.
Menurutnya, nenek moyang manusia awal masih sering memanjat pohon sehingga lengan panjang tetap memiliki fungsi penting.
Transisi Evolusi Manusia Diduga Bertahap
Para ilmuwan meyakini proses evolusi manusia berlangsung secara bertahap setelah garis keturunan manusia berpisah dari simpanse lebih dari lima juta tahun lalu.
Spesies awal seperti Australopithecus afarensis, yang terkenal lewat fosil Lucy, diketahui memiliki lengan panjang, tubuh kecil, dan otak yang belum berkembang seperti manusia modern.
Carol Ward menilai fosil Homo habilis justru memperkuat teori bahwa perubahan dari australopithecus menuju manusia modern tidak terjadi secara cepat.
“Transisi menuju Homo kemungkinan berlangsung perlahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, spesies awal Homo mungkin belum mengalami tekanan evolusi yang cukup kuat untuk memendekkan lengan. Adaptasi tubuh modern baru berkembang ketika manusia mulai lebih aktif berjalan, berlari, dan menggunakan alat di daratan terbuka.
Penemuan fosil terbaru ini dinilai sangat penting karena dapat mengubah pemahaman ilmuwan mengenai kapan sebenarnya manusia pertama muncul di bumi. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini