Jakarta, Sinata.id – Nama pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang dikenal sebagai Haji Isam, kembali menjadi sorotan pasar modal setelah resmi mengakuisisi saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK).
Melalui aksi korporasi terbaru tersebut, Haji Isam membeli 6,83 miliar saham PACK atau setara 21,12 persen kepemilikan perusahaan.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), transaksi pembelian dilakukan pada Rabu (13/5/2026) dengan harga Rp137 per saham. Total nilai akuisisi diperkirakan mencapai Rp936,65 miliar.
Langkah ini menandai keseriusan Jhonlin Group milik Haji Isam dalam memperluas bisnis di sektor nikel yang saat ini menjadi komoditas strategis untuk industri baterai kendaraan listrik global.
Masuknya Haji Isam ke sektor nikel dinilai menjadi sentimen positif bagi implementasi hilirisasi mineral di Indonesia. Industri nikel diproyeksikan terus berkembang seiring meningkatnya permintaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di pasar internasional.
Senior Technical Analyst Institutional Division Samuel Sekuritas Indonesia, Muhammad Alfatih, menilai kehadiran Haji Isam dapat memperkuat fundamental bisnis PACK.
“Masuknya Haji Isam sebagai investor besar di PACK membawa dukungan modal, peluang ekspansi, serta sinergi dengan berbagai lini usaha milik Jhonlin Group,” ujarnya di Jakarta, Minggu (17/5/2026).
Menurut Alfatih, jaringan bisnis Haji Isam yang mencakup sektor logistik, pelabuhan, energi, hingga perkebunan dapat memberikan efisiensi operasional apabila terintegrasi dengan bisnis nikel.
“Dengan kelengkapan usaha yang dimiliki, semuanya bisa saling mendukung sehingga masa depan bisnisnya menjadi lebih kuat,” katanya.
Aksi akuisisi tersebut juga langsung menarik perhatian pelaku pasar. Saham PACK tercatat menguat 9,86 persen ke level Rp312 per lembar saham setelah kabar masuknya Haji Isam beredar.
Aktivitas perdagangan saham PACK pun melonjak signifikan dengan volume transaksi mencapai 645,12 juta saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp196,78 miliar dengan frekuensi perdagangan sebanyak 18.811 kali.
Selain memperkuat bisnis nikel, langkah Haji Isam juga kembali memunculkan perhatian publik terhadap besarnya kekayaan yang dimiliki pengusaha asal Kalimantan Selatan tersebut.
Berdasarkan data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia pada 8 Oktober 2025, kekayaan Haji Isam diperkirakan mencapai Rp150,5 triliun atau setara lebih dari 9 miliar dolar AS.
Dengan nilai tersebut, posisi kekayaannya disebut telah melampaui sejumlah konglomerat papan atas Indonesia seperti Mochtar Riady dan Marina Budiman.
Haji Isam bahkan disebut mulai mendekati posisi Tahir & Family dalam daftar orang terkaya Indonesia.
Meski demikian, nama Haji Isam belum tercatat secara resmi dalam daftar 50 orang terkaya Indonesia versi Forbes. Hal ini disebabkan sebagian besar bisnis di bawah naungan Jhonlin Group masih berbentuk perusahaan tertutup sehingga valuasi asetnya tidak sepenuhnya dapat dihitung secara terbuka.
Fenomena masuknya pengusaha nasional besar ke sektor nikel dinilai menjadi sinyal bahwa prospek hilirisasi mineral Indonesia masih sangat menjanjikan.
Selain didukung tingginya kebutuhan global terhadap baterai kendaraan listrik, sektor hilirisasi nikel juga terus mendapat dorongan dari kebijakan pemerintah dalam memperkuat industri berbasis sumber daya alam di dalam negeri. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini