Sinata.id – Pada masa ketika layar televisi masih menjadi pusat perhatian keluarga Indonesia, setiap malam memiliki ritusnya sendiri. Tepat pukul 19.00 WIB, jutaan pasang mata tertuju pada satu siaran yang dinanti.
Dari balik layar, hadir sebuah suara yang tenang namun tegas. Suara yang kemudian lekat dalam ingatan banyak orang. Dialah, Pungky Rungkat.
Rentang waktu lebih dari sepuluh tahun, sejak 1988 hingga 2000, ia mengemban peran penting sebagai penyampai Berita Nasional di TVRI.
Itu adalah masa ketika teknologi belum memudahkan kerja penyiar. Tanpa bantuan teleprompter, setiap kalimat harus dihafal dengan cermat, setiap jeda dan tekanan kata ditata dengan presisi.
Dalam keterbatasan itulah, Pungky justru menunjukkan kualitasnya, dengan disiplin tinggi, ketelitian, dan wibawa yang tak tergoyahkan.
Pungky tidak berdiri sendiri. Bersama nama-nama seperti Sam Amir, Tuti Adhitama, dan Anita Rachman, ia menjadi bagian dari generasi penyiar yang kemudian dikenang sebagai era keemasan.
Mereka lebih dari sekadar pembaca berita; mereka adalah perantara kepercayaan, penghubung antara informasi negara dan masyarakat luas.
Cara mereka bertutur menghadirkan rasa tenang, menjadikan berita bukan sekadar informasi, tetapi juga pengalaman yang dihormati.
Di balik popularitas yang menjangkau hingga pelosok negeri, Pungky memilih berjalan dalam sunyi. Ia tidak menjadikan kehidupan pribadinya sebagai konsumsi publik. Tidak ada sensasi, tidak pula hiruk-pikuk gosip.
Ia seakan percaya, bahwa yang patut dikenang bukanlah dirinya sebagai figur, melainkan kualitas informasi yang ia sampaikan.
Kini, waktu telah membawa perubahan besar dalam dunia penyiaran. Nama Pungky Rungkat mungkin tak lagi sering terdengar di ruang-ruang modern.
Namun, bagi mereka yang pernah tumbuh di era 1990-an, suaranya masih hidup dalam ingatan, sebagai simbol ketenangan, kepercayaan, dan integritas.
Pungky meninggalkan jejak yang mengingatkan bahwa seorang jurnalis sejati tak hanya dinilai dari penampilan, tetapi dari kedalaman pikir, kejujuran sikap, dan kemampuannya menyampaikan kebenaran dengan penuh kemanusiaan. (A18/berbagai sumber)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini