Info Market CPO
🗓 Update: Senin, 4 Mei 2026 |15:05 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15415 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15400 15297 (PAA) 15300 (AGM) 15145 EUP ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15198 (PRISCOLIN) 15097 (PAA) 15100 (AGM) 15215 PRISCOLIN ACC
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14875 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14850 14589 (MNA) 14600 (PBI) 14965 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15035 14589 (MNA) 14700 (PBI) 15065 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • PRISCOLIN unggul pada FOB TDUKU
  • Segmen LOCO masih cenderung melemah dan belum merata
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Ekonomi & Bisnis

Saham BBCA Anjlok ke Level Terendah sejak Pandemi, Masih Layak Dibeli?

saham bbca anjlok ke level terendah sejak pandemi, masih layak dibeli?
Ilustrasi BBCA (Istimewa)

Jakarta, Sinata.id – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami penurunan tajam pada penutupan perdagangan pekan lalu. Harga saham turun 5,84% ke level Rp 6.050, yang menjadi titik terendah sejak periode pandemi COVID-19 pada 2021.

Penurunan ini juga diiringi aksi jual besar-besaran oleh investor asing. Dalam satu hari, net foreign sell (NFS) pada saham BBCA tercatat mencapai Rp 2,1 triliun. Meski demikian, para analis menilai kondisi fundamental perusahaan tetap kuat dan penurunan harga lebih dipengaruhi faktor eksternal.

Advertisement

Tekanan Sektoral, Bukan Spesifik BBCA

Analis dari Trimegah Sekuritas menyebut pelemahan tidak hanya terjadi pada BBCA, tetapi juga merata di sektor perbankan besar. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) turun 2,81% ke Rp 4.500 dengan NFS Rp 655 miliar, sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 2,85% ke Rp 3.070 dengan NFS Rp 447,3 miliar.

Baca Juga  BI Buka Penukaran Uang Baru 2026, Ini Jadwal dan Cara Daftar PINTAR

Kondisi ini menunjukkan adanya tekanan sektoral akibat penyesuaian portofolio investor asing terhadap risiko makroekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Faktor Global dan Geopolitik Jadi Pemicu

Beberapa faktor eksternal yang memicu tekanan pasar antara lain konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel yang belum mereda. Situasi ini mendorong kenaikan harga energi global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah serta perubahan outlook Indonesia oleh lembaga pemeringkat global turut memengaruhi arus modal asing. Review indeks oleh MSCI juga disebut menjadi salah satu faktor keluarnya dana asing dari pasar saham domestik.

Kinerja Fundamental BBCA Tetap Solid

Di tengah tekanan pasar, kinerja keuangan BBCA masih menunjukkan ketahanan. Pada kuartal I-2026, perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp 14,7 triliun atau tumbuh sekitar 4% secara tahunan.

Baca Juga  IHSG Anjlok hingga 7,35%, Menkeu Purbaya Ungkap Peran MSCI dan Praktik Goreng Saham

Riset dari BRI Danareksa Sekuritas menilai pencapaian ini sesuai dengan ekspektasi pasar. Pendapatan non-bunga yang kuat mampu menopang kinerja di tengah tekanan pada margin bunga bersih (NIM).

Pertumbuhan kredit tercatat sekitar 6% secara tahunan, dengan segmen korporasi sebagai pendorong utama. Sementara itu, segmen konsumer masih menghadapi tantangan, terutama pada pembiayaan kendaraan.

Prospek dan Rekomendasi Saham

BBCA tetap mempertahankan target kinerja 2026 dengan proyeksi pertumbuhan kredit 8–10% dan NIM di kisaran 5,4–5,6%. Selain itu, strategi pembagian dividen interim hingga tiga kali dalam setahun menjadi daya tarik tersendiri bagi investor.

BRI Danareksa Sekuritas masih memberikan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp 10.900. Valuasi saat ini dinilai sudah berada di bawah rata-rata historis, sehingga menawarkan potensi kenaikan yang menarik dengan risiko penurunan yang relatif terbatas.(A07)

Baca Juga  IHSG Anjlok ke Level 7.200, Bursa Asia Tertekan dan Seluruh Sektor Saham Melemah

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini