Beijing, Sinata.id – Pemerintah China resmi menghentikan seluruh impor unggas dan produk turunannya dari Chili menyusul meningkatnya kasus wabah flu burung di negara Amerika Selatan tersebut.
Kebijakan ini berlaku seketika sebagai langkah pencegahan untuk melindungi sektor peternakan domestik dan menjaga keamanan hayati nasional.
Otoritas Bea Cukai China dalam pernyataan resminya pada Kamis (23/4/2026) menyebut seluruh produk unggas asal Chili, baik daging maupun komoditas terkait lainnya, dilarang masuk ke wilayah China hingga waktu yang belum ditentukan.
Selain penghentian impor, petugas bea cukai juga diperintahkan memusnahkan setiap produk unggas ilegal asal Chili yang ditemukan di perbatasan.
Langkah tegas Beijing menandakan kekhawatiran serius terhadap potensi penyebaran virus ke rantai pasok pangan domestik.
China sendiri merupakan salah satu pasar terbesar dunia untuk produk protein hewani, sehingga setiap perubahan kebijakan impor berpotensi memengaruhi harga dan distribusi global.
Sebelumnya, China sempat menangguhkan perdagangan unggas dari Chili akibat kasus serupa.
Setelah larangan selama 18 bulan, aktivitas ekspor baru kembali dibuka pada akhir 2024.
Namun kini hubungan dagang tersebut kembali terganggu akibat lonjakan wabah terbaru.
Sebelum penghentian pertama, China merupakan pasar ekspor unggas terbesar ketiga bagi Chili.
Pada 2022, volume ekspor unggas Chili ke China mencapai sekitar 29.000 ton, setara 15 persen dari total ekspor unggas negara tersebut.
Keputusan Beijing diperkirakan memberi tekanan baru bagi industri peternakan Chili yang bergantung pada pasar ekspor bernilai tinggi.
Di sisi lain, importir China kemungkinan akan mencari pasokan alternatif dari negara lain untuk menjaga kestabilan kebutuhan domestik.
China dalam beberapa waktu terakhir memang memperketat pengawasan karantina dan lalu lintas hewan.
Pada akhir Maret lalu, negara itu juga melaporkan wabah penyakit mulut dan kuku yang menyerang 219 sapi di wilayah barat laut.
Kombinasi wabah hewan di berbagai negara kini menjadi ancaman serius bagi perdagangan pangan global, memicu kekhawatiran atas gangguan pasokan, kenaikan harga, dan meningkatnya kebijakan proteksi antarnegara. (A08/cna)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini