Kuala Lumpur, Sinata.id – Bursa saham Bursa Malaysia dibuka lebih kuat pada awal perdagangan, dengan indeks utama bergerak naik di tengah sentimen global yang beragam. Penguatan ini terjadi meski pasar masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan pelemahan di bursa Amerika Serikat.
Indeks acuan FBM KLCI naik 3,74 poin atau 0,22% ke level 1.719,07 pada pembukaan perdagangan, setelah bergerak di kisaran 1.713,47 hingga 1.720,46.
Indeks Bursa Malaysia Kompak Menguat
Selain KLCI, sejumlah indeks utama lain juga mencatat kenaikan:
FBM 70 naik 0,21% ke 17.888,06
FBM EMAS menguat 0,26% ke 12.681,33
FBM Small Cap naik 0,35% ke 12.515,78
FBM Emas Shariah bertambah 0,23% ke 1.023,68
Penguatan ini menunjukkan bahwa pasar saham Malaysia masih mendapat dukungan dari aktivitas perdagangan domestik, terutama pada saham berkapitalisasi kecil yang aktif diperdagangkan.
Saham Aktif Didominasi Emiten Berkapitalisasi Kecil
Sejumlah saham mencatat volume perdagangan tinggi di awal sesi:
NexG diperdagangkan 297,88 juta saham, naik tipis
Perdana menguat 1 sen ke 17,5 sen dengan volume tinggi
Zetrix naik 1,5 sen ke 91 sen
DNEX dan VS juga mencatat kenaikan tipis dengan aktivitas besar
Aktivitas ini menunjukkan minat investor ritel masih cukup kuat di segmen saham kecil.
Saham Blue Chip Ikut Menguat
Sejumlah saham unggulan juga menopang penguatan indeks, di antaranya:
Nestlé Malaysia naik 46 sen ke RM98,48
PetDag menguat 40 sen ke RM20,40
KLK naik 24 sen ke RM20,84
PChem dan HLIND juga mencatat kenaikan moderat
Kenaikan saham-saham besar ini membantu menjaga sentimen positif pasar secara keseluruhan.
Sebagian Saham Terkoreksi
Meski pasar menguat, beberapa saham tetap mengalami tekanan, seperti MPI yang turun 54 sen ke RM36,06, serta beberapa emiten lain seperti HEIM dan Time dotCom yang mencatat pelemahan terbatas.
Tekanan Global Masih Membayangi Pasar
Penguatan Bursa Malaysia terjadi di tengah tekanan dari pasar global. Bursa Amerika Serikat sebelumnya ditutup melemah, dengan:
Dow Jones turun 0,59%
S&P 500 turun 0,63%
Nasdaq melemah 0,59%
Sentimen global masih dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat. (A07)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini