Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

WFH Dinilai Belum Tentu Hemat BBM

ateng sutisna
Ateng Sutisna (ft: Parlementaria)

Jakarta, Sinata.id – Wacana penerapan kerja dari rumah atau work from home (WFH) satu hari dalam sepekan menuai sorotan.

Anggota Komisi XII DPR RI, Ateng Sutisna, meminta pemerintah mengkaji ulang kebijakan tersebut.

Advertisement

Menurutnya, target efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) hingga 20 persen perlu diuji secara lebih mendalam.

Ia menilai, upaya penghematan energi memang penting di tengah tekanan harga minyak global dan ketidakpastian geopolitik.

Namun, kebijakan yang diambil harus berbasis perhitungan matang, bukan sekadar asumsi.

Ateng menilai, penerapan WFH satu hari belum tentu efektif menekan konsumsi BBM.

Ia melihat adanya potensi pergeseran mobilitas, dari perjalanan kerja menjadi aktivitas non-esensial.

Baca Juga  Puan Maharani di May Day 2026: Negara Harus Hadir Lindungi Pekerja, Soroti Ancaman PHK hingga Outsourcing

Tanpa pembatasan ketat seperti saat pandemi, masyarakat dinilai tetap akan bepergian.

Bahkan, jika diterapkan mendekati akhir pekan, kebijakan ini berpotensi mendorong peningkatan perjalanan ke luar kota.

Selain itu, dampak ekonomi juga menjadi perhatian. Berkurangnya aktivitas perkantoran dinilai bisa menekan pendapatan pelaku usaha kecil di sekitar kawasan kerja.

Kelompok yang terdampak antara lain pedagang kaki lima hingga pengemudi transportasi daring.

Ateng mengingatkan, kebijakan penghematan energi jangan sampai justru membebani masyarakat kecil.

Di sisi lain, biaya operasional dinilai tidak hilang, melainkan berpindah ke rumah tangga.

Konsumsi listrik rumah tangga berpotensi meningkat seiring penerapan WFH.

Hal ini membuat efektivitas kebijakan tersebut dalam menghemat energi dipertanyakan.

Baca Juga  Iran Memanas, Indonesia Belum Terima Laporan Ancaman terhadap WNI

Karena itu, ia mendorong pemerintah fokus pada perbaikan sistem subsidi energi.

Menurutnya, persoalan utama bukan hanya besarnya konsumsi, tetapi ketepatan sasaran penerima subsidi.

Ia mengusulkan pengetatan distribusi BBM bersubsidi, termasuk pembatasan bagi kendaraan dengan kapasitas mesin besar.

Langkah ini dinilai lebih tepat untuk menekan konsumsi tanpa membebani masyarakat luas.

Selain itu, percepatan reformasi skema subsidi juga dianggap penting.
Tujuannya agar bantuan energi benar-benar diterima oleh kelompok yang berhak.

Ateng menegaskan, kebijakan penghematan harus menyasar akar persoalan, bukan sekadar solusi jangka pendek. (A18)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini