New York, Sinata.id – Kecelakaan pesawat fatal yang terjadi di Bandara LaGuardia, New York, Amerika Serikat (AS), pada Minggu (22/3/2026) malam diduga kuat dapat dihindari. Sejumlah pakar penerbangan menilai insiden ini kemungkinan besar dipicu oleh miskomunikasi antara petugas pengatur lalu lintas udara.
Mantan Inspektur Jenderal Departemen Transportasi AS, Mary Schiavo, menyatakan bahwa pesawat yang telah mendapat izin mendarat seharusnya memiliki prioritas penuh di landasan pacu.
“Begitu pesawat diizinkan untuk mendarat, maka pesawat tersebut memiliki hak atas landasan pacu,” ujarnya.
Dugaan Miskomunikasi Fatal
Menurut Schiavo, terdapat indikasi kebingungan antara menara kontrol (local control) dan kontrol darat (ground control). Ketidaksinkronan ini diduga menjadi penyebab utama tabrakan antara pesawat Air Canada dengan truk pemadam kebakaran di landasan pacu.
Ia menjelaskan bahwa kedua sistem pengendali lalu lintas udara tersebut seharusnya saling berkoordinasi secara ketat. Namun, dalam kasus ini, koordinasi diduga tidak berjalan dengan baik atau terjadi kesalahan fatal dalam komunikasi.
“Memberikan izin kepada kendaraan untuk melintasi landasan pacu saat pesawat sudah dalam fase akhir pendaratan adalah kesalahan yang sangat jelas,” tegasnya.
Kritik dari Pakar Lalu Lintas Udara
Pensiunan pengontrol lalu lintas udara dengan pengalaman lebih dari 38 tahun di Federal Aviation Administration (FAA), Harvey Sconick, turut mengkritik keras insiden tersebut.
Ia menilai keputusan untuk mengizinkan kendaraan melintas saat pesawat hendak mendarat sebagai tindakan yang tidak masuk akal.
“Ada kemungkinan satu petugas menangani dua fungsi sekaligus atau terjadi gangguan komunikasi antar frekuensi,” ujarnya.
Kronologi Insiden
Pesawat jet regional Air Canada Express yang dioperasikan oleh Jazz Aviation dilaporkan bertabrakan dengan truk pemadam kebakaran sesaat sebelum tengah malam di landasan pacu Bandara LaGuardia.
Truk tersebut diketahui tengah merespons insiden lain di area bandara. Berdasarkan rekaman audio, seorang pengontrol lalu lintas udara bahkan mengakui telah melakukan kesalahan.
Direktur Eksekutif Otoritas Pelabuhan New York dan New Jersey, Kathryn Garcia, menegaskan bahwa setiap pergerakan kendaraan di landasan pacu harus mendapat izin dari menara kontrol.
Korban dan Dampak
Akibat kecelakaan tersebut, seorang pilot dan kopilot dilaporkan tewas di lokasi kejadian. Selain itu, sebanyak 41 orang, termasuk dua petugas kepolisian yang berada di kendaraan darurat, mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Pesawat yang mengangkut 72 penumpang dan empat awak itu dilaporkan melaju dengan kecepatan sekitar 24 mph saat tabrakan terjadi.
Dalam peristiwa dramatis tersebut, seorang pramugari dilaporkan selamat meski terlempar keluar dari bagian depan pesawat saat masih terikat di kursinya.
Investigasi Masih Berlangsung
Hingga kini, penyelidikan masih terus dilakukan oleh otoritas terkait. Schiavo bahkan membandingkan insiden ini dengan kecelakaan sebelumnya yang melibatkan pesawat American Airlines dan helikopter militer di Sungai Potomac.
Ia menilai kasus ini berpotensi kembali menyoroti persoalan koordinasi dan pengawasan dalam sistem lalu lintas udara di AS.
“Ini adalah tragedi yang menyedihkan, namun saya tidak terkejut melihat kembali adanya masalah koordinasi dalam pengendalian lalu lintas udara,” pungkasnya. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini