Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Hiburan

Minum Jamu Usai Obat Perlu Jeda, Ini Penjelasan dan Risikonya

minum jamu usai obat perlu jeda, ini penjelasan dan risikonya
Ilustrasi minum obat

Jakarta, Sinata.id – Konsumsi jamu setelah minum obat perlu diberi jeda waktu untuk mencegah gangguan penyerapan dan interaksi yang berpotensi merugikan tubuh.

Praktik yang kerap dilakukan sebagian masyarakat ini dinilai tidak boleh dilakukan secara bersamaan tanpa pertimbangan medis.

Advertisement

Penggunaan obat bertujuan membantu tubuh melawan penyakit, meredakan gejala, serta mencegah kondisi memburuk.

Di sisi lain, jamu sebagai minuman herbal berbahan alami seperti kunyit, jahe, dan temulawak juga umum dikonsumsi untuk menjaga daya tahan tubuh dan menunjang kesehatan.

Meski sama-sama memiliki manfaat, konsumsi keduanya secara berdekatan dapat memengaruhi cara kerja obat di dalam tubuh.

Sejumlah sumber medis menyebutkan, interaksi antara obat dengan zat tertentu—baik dari makanan, minuman, maupun bahan herbal—dapat mengubah efektivitas terapi.

Baca Juga  Film Animasi Hoppers Tayang di Indonesia, Kisah Mabel Selamatkan Hutan dari Ancaman Pembangunan

Beberapa jenis minuman diketahui dapat menimbulkan interaksi bila dikonsumsi bersamaan atau setelah minum obat.

Alkohol, misalnya, dapat meningkatkan risiko efek samping seperti pusing, mual, gangguan pernapasan, hingga perdarahan. Minuman berkafein seperti kopi dan teh juga dapat mengganggu penyerapan obat serta memicu jantung berdebar atau iritasi lambung.

Selain itu, jus buah sitrus tertentu dapat meningkatkan kadar obat dalam darah sehingga efek samping menjadi lebih kuat, sementara susu atau minuman tinggi kalsium dapat menghambat penyerapan obat tertentu, termasuk antibiotik.

Dalam konteks jamu, sejumlah bahan herbal seperti jahe, kunyit, sereh, temulawak, ginseng, hingga bawang putih berpotensi berinteraksi dengan obat medis.

Interaksi ini dapat memperkuat efek obat, menurunkan khasiatnya, atau meningkatkan risiko efek samping, tergantung jenis obat dan kondisi individu.

Baca Juga  Netflix Diserbu Penonton! K-Pop: Demon Hunters Tembus Global Top 5

Untuk mengurangi risiko tersebut, disarankan memberi jeda waktu sekitar satu hingga dua jam antara konsumsi obat dan jamu.

Langkah ini dinilai membantu menjaga efektivitas obat sekaligus meminimalkan kemungkinan interaksi yang tidak diinginkan.

Kendati demikian, kebutuhan setiap orang dapat berbeda, bergantung pada kondisi kesehatan, jenis obat, dan riwayat penyakit. Konsultasi dengan tenaga medis seperti dokter atau apoteker diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan obat dan herbal secara bersamaan. (A58)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini