Jakarta, Sinata.id β Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini tidak lagi sekadar isu militer. Dampaknya langsung menghantam jantung ekonomi global, energi. Pasar gas dunia terguncang hebat setelah fasilitas LNG terbesar di Qatar menjadi sasaran serangan, memicu lonjakan harga yang diperkirakan belum mencapai puncaknya.
Dikutip Kamis (19/3/2026), serangan terhadap kompleks industri Ras Laffan di Qatar, yang selama ini memasok sekitar seperlima kebutuhan LNG dunia, menjadi titik balik krisis energi terbaru. Infrastruktur vital ini mengalami kerusakan signifikan, memaksa penghentian produksi dan distribusi dalam skala besar.
Situasi ini langsung mengguncang pasar Asia, kawasan yang paling bergantung pada pasokan LNG dari Qatar.
Sebelum serangan terbaru, harga LNG spot Asia sudah berada di kisaran tinggi, bahkan sempat menyentuh lebih dari US$25 per MMBtu, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Namun kini, dengan gangguan pasokan yang semakin parah, para analis memperkirakan harga bisa menembus US$26 per MMBtu, bahkan berpotensi mendekati US$30 jika krisis berlarut.
Seorang analis energi menggambarkan kondisi ini sebagai βskenario mimpi burukβ bagi pasar gas global, mencerminkan betapa rentannya sistem energi dunia terhadap konflik geopolitik.
Asia menjadi wilayah yang paling terdampak. Negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan India selama ini sangat bergantung pada LNG dari Qatar.
Lebih dari 80% ekspor LNG Qatar memang mengalir ke Asia. Ketika pasokan terganggu, negara-negara tersebut terpaksa berebut kargo alternatif di pasar spot yang semakin mahal.
Akibatnya, negara-negara berkembang di Asia Tenggara berisiko tersingkir dari pasar karena tidak mampu bersaing dalam harga.
Krisis ini tidak berhenti di Asia. Eropa juga ikut terdampak karena harus bersaing mendapatkan pasokan LNG pengganti, terutama setelah ketergantungan pada gas Rusia berkurang.
Harga gas di Eropa bahkan sempat melonjak tajam, sementara minyak dunia ikut terdorong naik mendekati US$120 per barel.
Para analis memperingatkan, jika gangguan berlangsung lama atau konflik meluas, dunia bisa menghadapi krisis energi yang lebih dalam, bahkan menyerupai kondisi krisis 2021. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini