Jakarta, Sinata.id — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung pada rantai pasok energi global. Di tengah ancaman gangguan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur minyak tersibuk di dunia, PT Pertamina (Persero) bergerak cepat menyiapkan skenario darurat untuk menjaga pasokan energi nasional tetap aman.
Perusahaan energi pelat merah itu kini menyiapkan strategi diversifikasi rute pengiriman minyak mentah sekaligus mencari jalur alternatif selain Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu pintu utama distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia ke berbagai negara.
Head of Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan perusahaan terus memantau dinamika jalur pelayaran internasional di tengah meningkatnya risiko gangguan distribusi energi global.
“Pertamina terus memonitor kondisi jalur pelayaran global dan menyiapkan skenario alternatif rute pengiriman apabila terjadi gangguan pada jalur utama, guna memastikan distribusi energi tetap berjalan dengan aman,” kata Baron, Selasa (17/3/2026).
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur paling vital dalam perdagangan energi global. Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu setiap hari dilalui jutaan barel minyak mentah dari negara-negara produsen Timur Tengah.
Bagi Indonesia, stabilitas jalur tersebut sangat penting. Data pemerintah menunjukkan sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia selama ini dikirim melalui rute Selat Hormuz.
Ketika jalur itu terancam terganggu akibat konflik geopolitik, dampaknya bisa langsung terasa pada rantai pasok energi nasional.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Pertamina juga menyiapkan strategi diversifikasi sumber impor minyak mentah. Artinya, pasokan energi tidak hanya bergantung pada negara-negara di Timur Tengah.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri sebelumnya menegaskan perusahaan telah mengantisipasi situasi tersebut dengan mencari alternatif pasokan dari berbagai wilayah lain.
“Jadi tentunya kita sudah antisipasi untuk mencari sumber yang lain supaya ketahanan stoknya juga bisa baik dan bagus,” kata Simon.
Ia menambahkan bahwa sumber energi Indonesia tidak hanya berasal dari Timur Tengah. Pertamina juga memperoleh pasokan minyak dari wilayah lain seperti Afrika hingga Amerika Serikat.
“Untuk antisipasi kami juga melakukan diversifikasi sumber. Sumber-sumber kita tidak hanya dari Timur Tengah, ada juga dari Afrika, ada dari Amerika Serikat, dan berbagai tempat lainnya,” ujarnya.
Pertamina juga memastikan terus berkoordinasi dengan pemerintah, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), untuk menentukan langkah strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Selain mencari jalur alternatif impor, perusahaan juga menyiapkan berbagai skenario logistik agar distribusi minyak ke dalam negeri tidak terganggu meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah memburuk.
Langkah ini dinilai krusial karena gangguan pada jalur distribusi minyak global bisa memicu lonjakan harga energi serta memengaruhi stabilitas pasokan di banyak negara. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini