Teheran, Sinata.id β Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini merambah ke jalur laut paling strategis di dunia. Iran menetapkan aturan baru: setiap kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz harus lebih dulu berkoordinasi dengan Angkatan Laut Iran.
Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya konflik kawasan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Jalur pelayaran yang menjadi nadi perdagangan energi global itu kini berada dalam pengawasan ketat Teheran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan kawasan.
Ia menyatakan bahwa stabilitas di Selat Hormuz memiliki arti vital bagi Iran.
βKeamanan Selat Hormuz sangat penting bagi kami. Stabilitas Iran berkaitan langsung dengan keamanan kawasan,β kata Baghaei dalam pernyataan yang dikutip dari kantor berita Mehr, Jumat (13/3/2026).
Dalam aturan terbaru itu, kapal-kapal yang hendak melintas di jalur perairan tersebut diminta melakukan komunikasi dengan otoritas maritim Iran, khususnya Angkatan Laut.
Langkah tersebut diklaim sebagai upaya memastikan keamanan pelayaran di tengah meningkatnya risiko konflik di kawasan Teluk Persia.
Baghaei menegaskan bahwa Iran sebenarnya tidak ingin Selat Hormuz menjadi wilayah yang tidak aman bagi pelayaran internasional.
Namun menurutnya, situasi yang memanas di kawasan saat ini dipicu oleh kehadiran kekuatan asing.
βKondisi tidak stabil di kawasan ini diciptakan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis,β ujarnya.
Selat Hormuz merupakan jalur laut yang sangat vital bagi perdagangan global. Sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah melewati jalur sempit ini sebelum menuju pasar dunia.
Karena posisinya yang strategis, setiap perubahan kebijakan di wilayah tersebut langsung memicu kekhawatiran pasar energi dan pelayaran internasional.
Dalam beberapa pekan terakhir, kawasan ini semakin tegang setelah konflik militer antara Iran dan Israel meningkat tajam. Situasi tersebut membuat Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian dunia.
Langkah Iran mewajibkan kapal berkoordinasi dengan angkatan lautnya juga dinilai sebagai pesan geopolitik kepada negara-negara Barat.
Di tengah konflik yang terus meningkat, Teheran ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki kontrol strategis atas salah satu jalur energi paling penting di dunia.
Kebijakan ini juga muncul setelah pemimpin baru Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz dapat digunakan sebagai instrumen tekanan dalam konflik regional yang sedang berlangsung. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini