Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
News

Konflik Iran Picu Usulan Evaluasi Forum Global

konflik iran picu usulan evaluasi forum global
Syahrul Aidi Maazat

Padang, Sinata.id – Konflik Iran di Timur Tengah dinilai menjadi momentum bagi Indonesia untuk meninjau kembali keikutsertaannya dalam berbagai forum internasional.

Anggota Komisi I DPR RI, Syahrul Aidi Maazat, menilai dinamika geopolitik global saat ini membuka ruang evaluasi terhadap efektivitas forum-forum internasional yang selama ini digagas untuk menjaga stabilitas dunia.

Advertisement

Hal itu disampaikan Syahrul saat kunjungan kerja Komisi I DPR RI di Markas Komando Daerah Militer XX Tuanku Imam Bonjol, Padang, Sumatera Barat, Jumat (6/3/2026).

Menurutnya, pemerintah perlu membahas secara serius apakah forum internasional yang diikuti Indonesia masih sejalan dengan amanat konstitusi dan mampu berperan dalam menjaga perdamaian global.

Baca juga: Trump Klaim Perang Segera Usai, Iran Tegaskan: Kami yang Menentukan Akhirnya

“Ini perlu menjadi bahan diskusi pemerintah, apakah forum-forum internasional yang ada masih sesuai dengan amanat konstitusi kita atau tidak,” kata politisi Fraksi PKS tersebut.

Baca Juga  Kritik terhadap KUHP–KUHAP Dinilai Wajar, Adang: Demokrasi Menjamin Ruang Koreksi

Syahrul juga menilai perkembangan geopolitik global harus dijadikan pelajaran bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian nasional. Hal itu mencakup sektor pertahanan, energi, hingga ekonomi.

Ia mencontohkan sejumlah negara yang tetap mampu bertahan meski menghadapi tekanan global karena memiliki fondasi kemandirian yang kuat.

“Kita harus belajar dari negara lain yang tetap kuat meski berada di bawah tekanan global. Kemandirian nasional itu kunci,” ujarnya.

Lebih jauh, Syahrul mengingatkan konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.

Salah satu risiko yang perlu diantisipasi pemerintah adalah kemungkinan terganggunya jalur perdagangan energi dunia di Selat Hormuz.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak global. Gangguan di kawasan itu berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.

Baca Juga  Polrestabes Medan Musnahkan 50 Kg Sabu, Nilainya Setara Rp 50 Miliar

“Jika Selat Hormuz terganggu, ekspor-impor minyak dunia akan terdampak. Sementara Indonesia masih bergantung pada impor minyak,” kata Syahrul.

Ia menilai kenaikan harga minyak global berpotensi meningkatkan beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kalau harga minyak naik tentu akan berdampak pada subsidi energi kita di APBN. Ini harus diantisipasi sejak sekarang,” ujarnya.

Karena itu, Syahrul mendorong pemerintah mempercepat upaya menuju kemandirian energi melalui eksplorasi sumber minyak dalam negeri serta pengembangan energi alternatif.

Menurutnya, kemandirian energi menjadi faktor penting agar Indonesia lebih tangguh menghadapi gejolak global.

“Energi itu urat nadi kehidupan sebuah bangsa. Kalau kita mandiri energi, kita akan jauh lebih kuat menghadapi gejolak global,” tuturnya. (A18)

Baca Juga  RS Mayapada Miliki Fasilitas Mewah, Namun Tetap Ramah Terhadap Kelas Bawah

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini