Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 7 Mei 2026 |18:20 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 1K DMI • LOCO PARINDU • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (IMT) 15220 (AGM) 15350 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14455 (MNA) 14600 (PBI) 15000 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 1K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Harga relatif stabil pada transaksi DMI
  • Selisih harga antar bidder sangat tipis
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Ekonomi & Bisnis

Harga LNG Asia Capai Level Tertinggi 3 Tahun Imbas Konflik Iran

harga liquefied natural gas (lng) di asia melonjak drastis ke titik tertinggi sejak tiga tahun terakhir akibat gangguan pasokan dari timur tengah dan konflik yang mengguncang jalur energi global.
Harga liquefied natural gas (LNG) di Asia melonjak drastis ke titik tertinggi sejak tiga tahun terakhir akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah dan konflik yang mengguncang jalur energi global. (Ist)

Jakarta, Sinata.id — Harga Liquefied Natural Gas (LNG) di kawasan Asia melonjak ke titik tertinggi dalam tiga tahun terakhir, memicu kekhawatiran pelaku pasar energi dan berpotensi mengguncang biaya energi global. Lonjakan ini terjadi di tengah eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran, yang secara langsung mengganggu pasokan gas alam cair dari salah satu eksportir utama dunia.

Menurut data perdagangan terbaru yang dikutip pada Rabu (4/3/2026), harga spot LNG Asia melambung tajam setelah penguncian pasokan dari negara produksi utama akibat gangguan di jalur pelayaran strategis, termasuk Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital ekspor energi dari Teluk Persia. Situasi ini memaksa pembeli di Asia seperti China, India, Korea Selatan, dan Taiwan berlomba mencari pasokan alternatif dengan harga jauh lebih tinggi.

Advertisement

Salah satu faktor utama di balik lonjakan harga adalah penghentian sementara produksi LNG di Qatar, salah satu negara eksportir terbesar di dunia. Gangguan ini dipicu serangan dan ancaman keamanan di wilayah tersebut, yang membuat beberapa fasilitas energi berhenti beroperasi sementara. Akibatnya, volume gas alam cair yang mengalir ke pasar Asia merosot drastis, mendorong harga spot melonjak melebihi rata-rata historis dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga  Harga LNG Asia Terancam Tembus US$26, Serangan Rudal ke Pabrik Qatar Picu Alarm Global

Baca Juga: Trump Ancam Hentikan Semua Perdagangan dengan Spanyol Usai Penolakan Pangkalan Militer

Pengamat energi mengatakan bahwa lonjakan harga bukan sekadar reaksi pasar biasa, tetapi refleksi dari ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan LNG dari Teluk yang kini dalam situasi konflik. “Dalam kondisi seperti ini, pasar harus menyesuaikan diri dengan realitas pasokan yang jauh lebih ketat, dan itu terlihat jelas pada lonjakan harga di Asia,” kata seorang analis pasar energi kepada Bloomberg, menjelaskan dinamika pasar yang sedang berlangsung.

Kenaikan harga LNG Asia bukan hanya sekadar statistik perdagangan. Lonjakan ini diperkirakan dapat berdampak luas pada biaya energi listrik dan industri di beberapa negara Asia, yang sangat tergantung pada gas alam cair sebagai sumber energi. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan, yang hampir 100% mengimpor LNG, menghadapi risiko kenaikan biaya produksi listrik serta kenaikan tarif energi konsumen jika situasi berlanjut.

Baca Juga  Daud Joseph Tinggalkan Transjakarta Usai Ditunjuk Jadi Dirut Pos Indonesia

Selain itu, tekanan harga ini dapat menciptakan persaingan antara pasar Asia dan Eropa dalam mendapatkan pasokan LNG yang terbatas, di mana pelaku pasar cenderung memilih tujuan ekspor dengan harga tertinggi terlebih dahulu. Pola ini meningkatkan volatilitas pasar global, menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik Timur Tengah dapat memperburuk risiko inflasi energi di berbagai belahan dunia.

Sampai saat ini, analis memperkirakan harga LNG Asia akan tetap berada pada level tinggi selama gangguan pasokan belum teratasi. Bahkan jika produksi kembali normal, ketidakpastian geopolitik dan persaingan antarpembeli di pasar global masih berpotensi menjaga harga di level elevated. Hal ini menjadi tantangan baru bagi negara produsen dan konsumen gas, serta mempertegas betapa rentannya pasar energi terhadap konflik geopolitik di kawasan produsen utama. [a46]

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini