Harare, Sinata.id – Harga litium di pasar global tiba-tiba melejit pada pekan ini setelah pemerintah Zimbabwe mengambil langkah drastis dengan menghentikan sementara ekspor semua konsentrat mineral, termasuk litium, yang menjadi bahan baku penting untuk baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi. Kebijakan ini memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan bahan mentah ke negara pengolah utama seperti China, dan dampaknya langsung terlihat di bursa komoditas dunia.
Data perdagangan dikutip pada Kamis (26/2/2026) menunjukkan bahwa kontrak litium karbonat yang paling aktif diperdagangkan di Bursa Berjangka Guangzhou meningkat lebih dari 6 persen, dengan sempat menyentuh lonjakan hampir 9 persen dalam satu sesi perdagangan.
Lonjakan ini mendorong harga per metrik ton naik ke level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir, mendorong optimisme sekaligus kekhawatiran pelaku pasar global.
Baca Juga: Setelah Skandal Perhiasan Raib, Macron Ganti Pimpinan Museum Louvre
Keputusan Zimbabwe, yang dikenal sebagai salah satu produsen litium terbesar di Afrika, diumumkan melalui Kementerian Pertambangan negara itu.
Kebijakan mengatur bahwa larangan ekspor konsentrat berlaku mulai Rabu tanpa batas waktu, dengan tujuan memperkuat pengolahan domestik dan menekan praktik pengiriman bahan mentah yang dianggap ilegal selama ini.
Sejumlah analis pasar global menilai langkah Zimbabwe sebagai pukulan bagi rantai pasok litium dunia, yang sudah berada di bawah tekanan akibat permintaan litium yang terus naik seiring percepatan adopsi kendaraan listrik dan teknologi energi terbarukan.
“Ketidakpastian pasokan litium dari Zimbabwe diperkirakan akan memperketat pasar dalam jangka pendek,” ujar dilansir Reuters.
Langkah Zimbabwe ini merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk meningkatkan nilai tambah dari sumber daya mineralnya, menghadirkan peluang sekaligus tantangan untuk investor asing.
Sejumlah perusahaan besar dari China, termasuk Zhejiang Huayou Cobalt dan Sinomine, telah lama berinvestasi di sektor pertambangan litium di Zimbabwe dan kini tengah menyesuaikan strategi mereka terhadap kebijakan baru ini.
Dampak dari larangan ekspor ini tidak hanya terasa di pasar komoditas, tetapi juga telah mendorong saham perusahaan pertambangan litium di bursa global menguat signifikan.
Beberapa emiten besar mencatatkan lonjakan harga saham mereka selama perdagangan di Amerika Utara dan Asia, mencerminkan sentimen investor terhadap berkurangnya pasokan litium mentah.
Para pelaku industri kini mengalihkan perhatian mereka pada langkah pemerintah Zimbabwe berikutnya serta perkembangan pembangunan fasilitas pengolahan litium di dalam negeri, yang diharapkan akan menyerap bahan mentah yang selama ini diekspor.
Pemerintah Harare menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan terus dievaluasi seiring dengan pembentukan rantai nilai litium yang lebih kuat di tanah Afrika. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini