Washington DC, Sinata.id — Gedung Capitol Hill berlangsung penuh ketegangan kemarin. Di balik pintu tertutup, para pemimpin legislatif Amerika Serikat menerima briefing dari dua tokoh penting Gedung Putih mengenai rencana potensial serangan militer terhadap Iran.
Dalam sesi yang digelar secara rahasia itu, Sekretaris Negara AS Marco Rubio bersama Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) John Ratcliffe memaparkan kepada pimpinan Kongres tentang dinamika terakhir hubungan Washington–Teheran yang makin memanas.
Waktu yang sama, Presiden Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan tahunan di hadapan seluruh anggota legislatif dan tamu undangan di Capitol. Ia membuka peluang diplomasi dengan Iran, tetapi tidak menutup kemungkinan opsi militer jika perundingan gagal mencapai hasil yang diinginkan.
“Preferensi saya tetap diplomasi, tetapi kita tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” ujar Trump, dikutip Rabu (25/2/2026).
Baca Juga: Viral Menu MBG Saat Ramadan di Palu, Guru Soroti Kualitas Makanan Siswa
Trump menekankan bahwa negosiasi di Jenewa masih terus berlangsung dan Teheran dikatakan “ingin membuat kesepakatan,” meskipun tidak mau menyerahkan komitmen tertulis bahwa mereka akan sepenuhnya menghapus ambisi nuklirnya.
Reaksi di gedung parlemen beragam. Sejumlah legislator dari kedua partai mengaku terkejut briefing yang dilakukan bersifat tertutup, tanpa penjelasan yang bisa diakses publik lebih luas. Kekhawatiran memuncak bahwa rencana militer melampaui kewenangan Presiden tanpa persetujuan Kongres.
Senator penting dari partai Demokrat bahkan menyuarakan bahwa Kongres perlu keterlibatan langsung sebelum keputusan militer diambil, mengingat implikasi konstitusional yang serius.
Sementara itu, laporan independen menunjukkan Amerika telah mengerahkan kekuatan militer secara signifikan di kawasan Eropa dan Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir, peningkatan terbesar sejak dekade terakhir.
Pangkalan udara, kapal induk dan jet tempur ditempatkan strategis, mencerminkan kesiapan jika konflik benar-benar pecah. Para analis militer menyebut langkah ini sebagai kombinasi strategi tekanan dan kesiapsiagaan perang yang kuat.
Di tengah semua itu, publik juga dibingungkan oleh berita yang beredar bahwa Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika, Jenderal Dan Caine, dilaporkan memperingatkan potensi risiko besar jika militer AS menyerang Iran. Trump membantah keras informasi itu dan menyatakan laporan tersebut sebagai “berita palsu.”
Menurut unggahan Trump di platform media sosialnya, jenderal senior itu “tidak ingin perang, tetapi yakin militer AS akan menang jika diperintahkan.”
Di lain sisi, ketegangan juga dirasakan langsung oleh warga Iran. Warga sipil mengatakan suasana di negara itu kini penuh kekhawatiran, bukan perang, tetapi bukan damai juga. Mereka khawatir akan serangan besar dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Seorang ibu rumah tangga di Teheran bahkan menyatakan keinginannya agar “serangan terjadi agar rezim bisa berubah,” meskipun ketidakpastian terus menyelimuti kehidupan mereka. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini