Brasil, Sinata.id – Operasi polisi terbesar dan paling mematikan di Rio de Janeiro, Brasil, baru-baru ini berubah menjadi medan perang berdarah.
Pada Selasa (28/10/2025), sekitar 2.500 aparat gabungan dari polisi dan militer melancarkan penggerebekan besar terhadap geng narkoba Comando Vermelho, yang sejak lama menguasai wilayah favela di kota tersebut.
Bentrokan bersenjata yang terjadi menyebabkan setidaknya 132 orang tewas, termasuk 115 tersangka dan empat petugas polisi, berdasarkan data Kantor Pembela Umum.
Namun, otoritas resmi menyebut angka kematian sementara sebanyak 119 jiwa. Operasi ini juga mengamankan 81 tahanan dan menyita 93 senjata api serta lebih dari setengah ton narkoba.
Penggerebekan besar-besaran ini dilakukan dengan dukungan kendaraan lapis baja, helikopter, dan drone.
Geng Comando Vermelho melancarkan perlawanan sengit, termasuk penyergapan dengan tembakan otomatis dan penyerangan polisi menggunakan drone berisi bahan peledak.
Para anggota geng juga memasang blokade dengan bus yang disita untuk mencegah akses aparat.
Pemandangan seperti medan perang terlihat di jalanan favela saat warga yang ketakutan berlarian mencari perlindungan.
Setelah bentrokan selesai, warga favela Complexo da Penha menemukan puluhan jenazah di hutan pinggiran favela, termasuk korban yang dipenggal dan yang mengalami cacat parah, menimbulkan tuduhan eksekusi massal dari masyarakat.
Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, menyebut operasi tersebut sebagai keberhasilan strategis dalam memerangi “narkoterorisme” dan mengklaim hanya petugas polisi yang gugur dalam operasi ini.
Namun, Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menyatakan kegelisahan dan keterkejutan karena operasi sebesar ini berjalan tanpa sepengetahuan pemerintah federal.
Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak diinformasikan sebelumnya tentang langkah besar ini.
Warga dan aktivis Hak Asasi Manusia mengecam keras dan menuding polisi melakukan pembunuhan di luar prosedur hukum, dengan banyak korban ditembak dari arah belakang, ditembak di kepala, bahkan dalam kondisi terikat.
Pengacara keluarga korban melaporkan luka bakar dan tanda-tanda pembunuhan berdarah dingin pada beberapa jenazah.
Sekjen PBB Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan mendalam dan menyerukan investigasi segera terkait adanya korban jiwa dalam jumlah sangat besar tersebut.
Operasi ini menjadi sorotan internasional karena terjadi hanya beberapa hari menjelang konferensi iklim global COP30 yang diselenggarakan di Brasil, di kota Belem, Amazon.
Sementara pemerintah negara bagian memuji aksi keras polisi, masyarakat lokal dan organisasi HAM menuntut penjelasan dan keadilan atas transformasi favela menjadi zona perang yang penuh kekerasan dan penderitaan manusia.
Komisi Hak Asasi Manusia di legislatif Rio juga akan menuntut pertanggungjawaban atas insiden ini, yang merupakan operasi paling berdarah dalam sejarah Rio de Janeiro. (A58)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini