Pematangsiantar, Sinata.id – Setiap bulan Ramadan tiba, umat Islam kembali menghadapi pertanyaan klasik: berapa rakaat seharusnya salat Tarawih dilakukan? Meski ibadah ini rutin dijalankan, jumlah rakaat salat Tarawih menjadi perdebatan di kalangan umat karena tidak ada hadis sahih yang secara eksplisit menyebutkan angka pastinya.
Menurut keterangan dari NU Online, perbedaan jumlah rakaat ini muncul karena para ulama memiliki ijtihad berbeda dalam menafsirkan praktik shalat malam yang dilakukan Rasulullah SAW. Dua organisasi keagamaan besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, bahkan memiliki ketetapan yang berbeda.
NU menetapkan salat Tarawih sebanyak 23 rakaat, terdiri dari 20 rakaat salat Tarawih berjamaah dan 3 rakaat witir. Jumlah ini berakar dari kebiasaan yang dicatat pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Menurut catatan, Umar mengumpulkan umat Islam untuk melaksanakan shalat Tarawih secara berjemaah agar lebih tertib, karena sebelumnya banyak yang melaksanakan salat malam secara sendiri-sendiri.
Imam Syafi’i menulis bahwa orang-orang di Madinah biasanya menunaikan 39 rakaat, sementara di Makkah 23 rakaat. Hadis dari Yazid bin Ruman menyebutkan: “Manusia senantiasa melaksanakan salat pada masa Umar radliyallahu ‘anh di bulan Ramadhan sebanyak 23 rakaat (20 rakaat tarawih, disambung 3 rakaat witir)” (HR Malik).
Baca juga: Sambut Ramadan, Simak Tren Ucapan Selamat Puasa Mulai Ramai Dibagikan
Sementara itu, Muhammadiyah menentukan shalat Tarawih 11 rakaat, mengikuti riwayat Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Dalam hadis tersebut, Abu Salamah Ibn Abd ar-Rahman bertanya kepada Aisyah mengenai salat malam Nabi SAW di bulan Ramadan. Aisyah menjawab bahwa Nabi tidak pernah melakukannya lebih dari sebelas rakaat: empat rakaat salam, dilanjut empat rakaat salam, dan ditutup witir tiga rakaat (HR al-Bukhari Nomor 3304).
Perbedaan ini, menurut para ulama, bukan soal benar atau salah. Dalam khazanah fikih Islam, variasi jumlah rakaat masuk kategori khilafiyah yang dibenarkan. Umat Islam dapat memilih pola shalat sesuai keyakinan dan tradisi masing-masing, sambil tetap menjaga sikap saling menghormati dan memelihara ukhuwah.
Dengan demikian, selama bulan Ramadan, pilihan menjalankan 11 atau 23 rakaat Tarawih sepenuhnya tergantung pada pemahaman dan praktik komunitas masing-masing, tanpa mengurangi esensi ibadah malam yang penuh berkah ini. (A58)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini