Washington DC, Sinata.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menggebrak panggung diplomasi internasional dengan pernyataan kontroversial yang memicu gelombang reaksi global, Selasa (17/2/2026).
Dalam keterangan pers di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump secara terbuka menyatakan bahwa upaya untuk menangkap pemimpin Kuba, Miguel Díaz-Canel, oleh militer AS bukanlah sesuatu yang sulit dilakukan, meskipun ia menegaskan bahwa saat ini belum menjadi prioritas.
“Operasi semacam itu tidak akan terlalu sulit, namun saya tidak ingin menjawab apakah hal itu akan terjadi. Saya pikir pada akhirnya itu tidak diperlukan,” ujar Trump kepada wartawan dalam perjalanan dari kota yang belum ia sebut secara spesifik.
Baca Juga: Trump Segera Tentukan Arah Dukungan Militer ke Taiwan
Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi tekanan ekonomi dan politik yang meningkat terhadap negara Karibia tersebut, yang selama ini menjadi sekutu tradisional blok komunis di kawasan Amerika Latin. Trump menempatkan Kuba pada posisi yang ia sebut sebagai “ancaman kemanusiaan”, menyerukan agar rezim di Havana segera duduk di meja perundingan dengan Washington untuk menyelesaikan krisis yang menurutnya mendalam.
Sejak awal tahun, hubungan antara Washington dan Havana menjadi salah satu titik panas geopolitik di belahan barat. Ketegangan melonjak tajam setelah pasukan khusus AS melancarkan operasi militer di Venezuela pada 3 Januari lalu dan menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya. Insiden itu memutus pasokan minyak penting yang selama ini mendukung ekonomi Kuba, memperburuk krisis energi dan memicu pemadaman listrik bergilir di seluruh negeri.
Diplomasi pun bergerak cepat. Trump menyatakan bahwa pihaknya kini tengah melakukan pembicaraan langsung dengan pejabat Kuba, yang dipimpin Menteri Luar Negeri Marco Rubio, demi mencapai kesepakatan yang menurutnya mengatasi krisis dan meningkatkan kesejahteraan warga Kuba serta masyarakat Kuba-Amerika.
“Kami sedang berbicara dengan Kuba sekarang,” ujar Trump, menambahkan bahwa kedua negara perlu mencapai persetujuan penting demi menyelesaikan apa yang ia gambarkan sebagai keadaan “negara gagal” yang terancam.
Pendekatan keras Washington tidak hanya mengguncang Kuba. Kebijakan Trump juga mencakup pemberlakuan tarif terhadap negara-negara yang memasok minyak ke Havana, serta deklarasi keadaan darurat nasional yang mengklasifikasikan situasi di Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional AS. Langkah ini telah memicu kecaman dari beberapa negara di kawasan dan dunia internasional, yang menilai tindakan AS berpotensi memperparah situasi kemanusiaan di pulau tersebut.
Sementara itu, pemerintah Kuba tetap menyatakan akan mempertahankan kedaulatan negara di tengah segala tekanan. Duta Besar Kuba untuk Ekuador menegaskan bahwa rakyatnya tidak akan menyerah pada intimidasi luar dan tetap mempertahankan sistem pemerintahan yang dipilih secara bebas. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini