Teheran, Sinata.id — Iran menyatakan kesediaannya untuk mengurangi tingkat pengayaan uranium apabila Amerika Serikat (AS) mencabut seluruh sanksi ekonomi yang dijatuhkan kepada Teheran.
Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menegaskan bahwa langkah pengurangan pengayaan uranium hanya akan dilakukan jika semua sanksi dicabut sebagai imbalannya.
“Kemungkinan untuk mengurangi pengayaan uranium bergantung pada apakah semua sanksi dicabut,” ujar Eslami pada Senin (9/2/2026), seperti dikutip Reuters.
Pernyataan tersebut disampaikan usai Iran dan AS menggelar pembicaraan mengenai program nuklir Teheran di Oman pada Jumat (6/2/2026). Negosiasi itu direncanakan berlanjut ke putaran kedua, meski hingga kini belum diumumkan waktu dan lokasi resminya.
Baca juga:Rudal Khorramshahr-4 Iran Muncul Saat Diplomasi Nuklir Dibuka
AS sebelumnya mendesak Iran kembali ke meja perundingan dengan ancaman tekanan militer. Sejumlah armada perang AS dilaporkan siaga di sekitar wilayah Iran sebagai bagian dari upaya menekan Teheran.
Dalam tuntutannya, AS meminta Iran menghentikan pengembangan nuklir. Berdasarkan laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Iran memiliki lebih dari 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60 persen, hanya selangkah di bawah tingkat pengayaan untuk senjata nuklir, yakni 90 persen.
Eslami juga menegaskan bahwa tidak ada pembahasan mengenai pengiriman uranium Iran ke luar negeri dalam negosiasi dengan AS. Sebelumnya, Washington dikabarkan meminta Teheran mengirimkan stok uranium tersebut ke negara lain.
Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Ali Larijani, dijadwalkan mengunjungi Oman pada Selasa (10/2/2026) untuk membahas perkembangan kawasan serta kerja sama bilateral.
Iran dan AS tercatat telah menggelar lima putaran pembicaraan nuklir sepanjang tahun lalu. Namun, seluruh negosiasi itu berujung buntu, terutama akibat perbedaan pandangan terkait tingkat pengayaan uranium Iran.
Baca juga:AS–Iran Buka Jalur Rahasia di Bawah Bayang-Bayang Perang
Pada Juni 2025, AS menyerang sejumlah fasilitas nuklir Iran setelah mendapat dorongan dari Israel. Sejak saat itu, Teheran mengklaim telah menghentikan aktivitas pengayaan uranium. Namun, Israel menuding Iran masih terus mengembangkan program tersebut.
Iran menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan damai dan membantah tudingan pengembangan senjata nuklir.
Sejak Januari, kehadiran kapal perang dan jet tempur AS di kawasan meningkat dengan alasan pengamanan regional. Presiden AS Donald Trump kemudian menegaskan bahwa pengerahan militer tersebut berkaitan langsung dengan program nuklir Iran, termasuk tuntutan agar Teheran menghentikan pengembangan rudal balistik. Iran menolak tuntutan itu dan meminta AS fokus pada isu nuklir semata. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini