Mumbai, Sinata.id – Ketua Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), Mohan Bhagwat, mengidentifikasi konversi agama, infiltrasi, dan rendahnya angka kelahiran sebagai tiga faktor utama penyebab ketidakseimbangan populasi di India.
Hal tersebut disampaikannya dalam sesi interaktif pada peringatan 100 tahun berdirinya RSS, Minggu (8/2/2026) dilansir dari economictimes.indiatimes.
Bhagwat menegaskan bahwa kebebasan beragama dijamin, namun ia mengecam keras praktik konversi agama yang dilakukan melalui kekerasan, bujukan, atau penipuan demi meningkatkan jumlah penganut suatu kelompok. Menurutnya, konsep “ghar wapasi” atau kembali ke keyakinan asal merupakan solusi bagi mereka yang ingin kembali ke agama semula.
“Bagi mereka yang ingin kembali ke keyakinan asal, kami membuka jalan,” ujar Bhagwat.
Baca juga:Wahana “Tsunami Swing” Runtuh di Festival India, Polisi Tewas Tertimpa, Belasan Orang Luka
Terkait infiltrasi, Bhagwat menyebut pemerintah perlu melakukan langkah yang lebih luas dan tegas. Ia mengungkapkan bahwa proses pendeteksian dan deportasi telah berjalan secara bertahap, termasuk melalui program Revisi Intensif Khusus (SIR) yang mengidentifikasi individu bukan warga negara dan mencoret mereka dari daftar pemilih.
Ia juga menyampaikan bahwa relawan RSS membantu mengidentifikasi dugaan penyusup melalui perbedaan bahasa dan melaporkannya kepada pihak berwenang. Menurutnya, warga negara India, termasuk umat Muslim, tetap berhak memperoleh pekerjaan, sedangkan warga negara asing tidak diprioritaskan.
Faktor ketiga yang disoroti adalah angka kelahiran yang rendah. Bhagwat menyebut para ahli kesehatan dan demografi merekomendasikan pernikahan pada usia 19–25 tahun serta memiliki tiga anak untuk menjaga keseimbangan populasi dan kesehatan keluarga.
“Berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa idealnya satu keluarga memiliki tiga anak. Namun, hal ini tetap menjadi pilihan masing-masing keluarga dan harus dipandang sebagai isu sosial,” katanya.
Ia menambahkan, para ilmuwan kependudukan memperingatkan bahwa suatu negara menghadapi risiko penurunan populasi ketika angka kesuburan turun di bawah 2,3. Saat ini, India berada di bawah 2,1, meski masih terbantu oleh negara bagian seperti Bihar.
Baca juga:WHO Ungkap 7 Temuan Penting Kasus Virus Nipah di India
Dalam kesempatan tersebut, Bhagwat juga menyoroti pentingnya penciptaan lapangan kerja untuk mencegah keresahan sosial. Menurutnya, teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja, bukan justru menguranginya.
Ia menilai produk domestik bruto (PDB) bukan satu-satunya indikator kesehatan ekonomi karena tidak mencerminkan kontribusi pekerjaan domestik yang tidak dibayar, khususnya yang dilakukan perempuan.
Menutup pernyataannya, Bhagwat menekankan pentingnya persatuan nasional dan menolak segala upaya yang berpotensi memecah belah India. Ia juga mengajak masyarakat membayangkan konsep “Akhand Bharat” atau India yang utuh pada tahun 2047. (A02)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini