Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Religi

Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Ini Perkiraan Awal Ramadhan 1447 H

berapa hari lagi puasa 2026? ini perkiraan awal ramadhan 1447 h
Ilustrasi Bulan Ramadhan. (gettyimages)

Pematangsiantar, Sinata.id — Bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah menjadi momen yang dinantikan umat Muslim di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Memasuki Februari 2026, pertanyaan mengenai berapa hari lagi puasa mulai banyak dicari masyarakat, seiring semakin dekatnya waktu pelaksanaan ibadah puasa.

Advertisement

Berdasarkan sejumlah perkiraan, awal Ramadhan 1447 H diprediksi jatuh pada pertengahan Februari 2026. Perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah membuat kemungkinan awal puasa tahun ini berpotensi tidak seragam.

Perkiraan Awal Puasa Menurut Muhammadiyah

Baca juga:Doa Buka Puasa Nisfu Syaban 2026: Bacaan Arab, Latin, dan Keutamaannya

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Baca Juga  Jalan Orang Benar Semakin Terang, Renungan Pagi Kristen yang Menguatkan Iman

Dengan mengacu pada ketetapan tersebut, maka per Minggu (8/2/2026), puasa Ramadhan 2026 tinggal 10 hari lagi.

Perkiraan Awal Puasa Menurut BRIN

Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis (19/22026). Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa pada saat matahari terbenam 17 Februari 2026, posisi hilal di wilayah Asia Tenggara belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS.

Menurutnya, tinggi hilal dan elongasi belum mencapai batas minimal yang disepakati, sehingga awal Ramadhan kemungkinan bergeser ke 19 Februari 2026. Dengan perkiraan tersebut, puasa Ramadhan 2026 masih 11 hari lagi dari tanggal 8 Februari 2026.

Baca juga:Nisfu Syaban 2026 Bertepatan Puasa Ayyamul Bidh, Catat Jadwal Lengkapnya

Pemerintah Menunggu Sidang Isbat

Baca Juga  Datang, Mendengar, dan Melakukan Firman Tuhan

Kementerian Agama RI dijadwalkan menggelar Sidang Isbat penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah pada 17 Februari 2026. Sidang akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi dan dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Sidang isbat melibatkan berbagai pihak, mulai dari perwakilan organisasi masyarakat Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), BMKG, ahli falak, DPR RI, hingga Mahkamah Agung.

Proses sidang diawali dengan pemaparan data hisab astronomi, dilanjutkan verifikasi hasil rukyatul hilal dari 37 titik pemantauan di seluruh Indonesia, lalu musyawarah penetapan keputusan.

NU Masih Menunggu Hasil Rukyat

Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) juga akan melaksanakan rukyatul hilal pada 17 Februari 2026 melalui jejaring pemantauan di berbagai daerah. NU masih menunggu hasil pengamatan hilal sebagai dasar penetapan awal Ramadhan.

Baca Juga  Muslimin Akbar: Puasa Bukan Sekadar Lapar, Tapi Membentuk Takwa

Berdasarkan Almanak NU, awal Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, sejalan dengan pendekatan hilal lokal yang mensyaratkan visibilitas hilal di wilayah Indonesia.

Baca juga:Berapa Hari Lagi Puasa 2026? Ini Jadwal Awal Ramadhan Versi Muhammadiyah dan Pemerintah

Dengan adanya perbedaan pendekatan penentuan hilal, awal puasa Ramadhan 2026 berpotensi jatuh pada dua tanggal, yakni 18 atau 19 Februari 2026.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menunggu hasil sidang isbat sebagai keputusan resmi nasional, serta tetap saling menghormati perbedaan metode penentuan awal bulan hijriah. (A02)

 

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini