Info Market CPO
🗓 Update: Selasa, 5 Mei 2026 |14:54 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • LOCO NGABANG • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO LUWU
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15625 15418 15400 - EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
15260 14693 14800 15275 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
15100 14693 14800 15275 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
15075 14693 14700 15175 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi pada transaksi DMI
  • Segmen LOCO masih dalam tekanan harga
  • Belum ada transaksi pada beberapa titik lokasi
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

CDC Taiwan Masukkan Virus Nipah Kategori 5, Indonesia Diminta Waspada

cdc taiwan masukkan virus nipah kategori 5, indonesia diminta waspada
Ilustrasi virus nipah. (gettyimages)

Jakarta, Sinata.id – Pusat Pengendalian Penyakit Taiwan atau Centers for Disease Control (CDC) Taiwan berencana memasukkan infeksi virus Nipah ke dalam Category 5 notifiable disease atau penyakit wajib lapor kategori tertinggi.

Langkah ini diambil menyusul kembali munculnya wabah virus Nipah di India.

Advertisement

Pejabat CDC Taiwan mengatakan kepada CNA, Minggu (26/1/2026), bahwa pihaknya telah merilis rancangan perubahan peraturan pengendalian penyakit menular pada 16 Januari 2026. Dalam rancangan tersebut, infeksi virus Nipah diklasifikasikan sebagai penyakit baru atau langka dengan risiko tinggi terhadap kesehatan masyarakat.

Sebagai Category 5 notifiable disease, infeksi virus Nipah mewajibkan pelaporan segera serta penerapan langkah-langkah pengendalian khusus. Meski demikian, aturan ini masih harus melalui masa konsultasi publik selama 60 hari sebelum diberlakukan secara resmi.

Baca juga:Bukan Virus Baru, H3N2 Subclade K Ditemukan di 8 Provinsi, Anak-Anak Paling Terdampak

Peringatan Perjalanan Masih Level 2

Wakil Direktur Jenderal CDC Taiwan, Lin Ming-cheng, menyampaikan bahwa meskipun virus Nipah akan diklasifikasikan sebagai penyakit kategori 5, pemerintah Taiwan tetap mempertahankan peringatan perjalanan Level 2 (kuning) untuk negara bagian Kerala di India barat daya, wilayah yang dikenal sebagai daerah endemis virus Nipah.

Baca Juga  Isu Reshuffle Kabinet Merah Putih Menggema, Istana Buka Suara

Hingga saat ini, Taiwan belum mengeluarkan peringatan perjalanan untuk Benggala Barat maupun wilayah lain di India. Dalam sistem peringatan perjalanan Taiwan yang terdiri dari empat tingkat, Level 2 mengimbau wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan tanpa melarang perjalanan.

Lin menambahkan, peringatan perjalanan akan disesuaikan dengan perkembangan wabah. Jika terjadi penularan di tingkat komunitas, level peringatan dapat dinaikkan. Namun, apabila kasus masih terbatas di rumah sakit, wisatawan hanya diimbau untuk menghindari fasilitas medis di wilayah terdampak.

Gejala dan Pencegahan Virus Nipah

Gejala awal infeksi virus Nipah umumnya menyerupai influenza, seperti demam, sakit kepala, dan nyeri otot. Pada sebagian kasus, infeksi tidak menimbulkan gejala. Namun, pada kondisi yang lebih berat, penyakit ini dapat berkembang menjadi ensefalitis (radang otak) dan kejang, bahkan menyebabkan koma dalam waktu 24 hingga 48 jam.

Penyintas juga berisiko mengalami dampak jangka panjang, antara lain kejang berulang dan perubahan kepribadian.

Baca juga:Kasus Flu di Amerika Serikat Capai Level Tinggi, CDC Rilis Data Terbaru

Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat untuk menghindari perjalanan ke wilayah penyebaran virus Nipah serta menjaga kebersihan diri, termasuk rutin mencuci tangan, terutama setelah kontak dengan hewan. Buah-buahan juga dianjurkan untuk dicuci bersih sebelum dikonsumsi.

Baca Juga  Menteri PPPA Minta Maaf Bikin Gaduh Publik Pasca Kecelakaan KA di Bekasi

“Langkah perlindungan seperti penggunaan sarung tangan, masker, dan pakaian pelindung perlu diterapkan saat menangani hewan, khususnya hewan yang sakit,” ujar Lin, dikutip dari Taiwan News.

Wisatawan juga diingatkan agar berhati-hati saat mengkonsumsi air kelapa di luar negeri serta menghindari buah yang tampak telah digigit kelelawar atau terkontaminasi.

Indonesia Perlu Tingkatkan Kewaspadaan

Kembali munculnya kasus penyakit akibat virus Nipah di India menjadi peringatan serius bagi dunia, termasuk Indonesia. Penyakit zoonotik yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi ini dilaporkan telah menular antarmanusia di negara bagian Benggala Barat.

Direktur Pascasarjana Universitas YARSI sekaligus mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menilai Indonesia perlu bersikap waspada terhadap potensi penyebaran virus Nipah.

Menurutnya, terdapat sejumlah alasan utama. Pertama, sejak 2018 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memasukkan penyakit akibat virus Nipah ke dalam WHO R&D Blueprint, yakni daftar penyakit prioritas yang berpotensi menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat global.

Kedua, kasus di India menunjukkan bahwa virus Nipah tidak hanya menular dari hewan ke manusia, tetapi juga dapat menyebar antarmanusia. Ketiga, sejumlah negara telah meningkatkan kewaspadaan, termasuk Thailand yang melakukan skrining di bandara serta Taiwan yang memasukkan virus Nipah ke kategori penyakit tingkat tinggi.

Baca Juga  Pulau Salah Namo dan Pandang Disiapkan Jadi Surga Wisata Baru Batu Bara

Baca juga:Menkes: Pasien Meninggal di RSHS Bandung Bukan Murni Akibat Super Flu

Keempat, mobilitas warga India ke Indonesia tergolong tinggi, khususnya dari wilayah Kolkata dan Benggala Barat, sehingga memerlukan pengawasan lebih ketat. Kelima, Indonesia perlu terus mengikuti perkembangan penularan dan memperkuat koordinasi dengan WHO Asia Tenggara (SEARO), Pasifik Barat (WPRO), serta ACPHEED (ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases).

Virus Nipah memiliki masa inkubasi sekitar 4 hingga 21 hari. Meski gejala awal menyerupai flu, penyakit ini dapat berkembang menjadi gangguan paru berat dan ensefalitis. Pada kasus berat, tingkat kematian dilaporkan mencapai 40 hingga 75 persen.

Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat spesifik untuk virus Nipah. Oleh karena itu, kewaspadaan, deteksi dini, serta kesiapsiagaan sistem kesehatan menjadi langkah paling penting dalam menghadapi ancaman penyakit ini. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini