Info Market CPO
🗓 Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • LOCO NGABANG • LOCO KEMBAYAN • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K · LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Ekonomi & Bisnis

Calon Deputi Gubernur BI Ungkap Penyebab “Jurus” Purbaya Belum Ampuh Mendorong Kredit Perbankan

calon deputi gubernur bi ungkap penyebab “jurus” purbaya belum ampuh mendorong kredit perbankan
Purbaya

Jakarta, Sinata.id – Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M Juhro ungkap penyebab jurus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum ampuh untuk mendorong kredit perbankkan.

Hal itu dipaparkan Solikin M Juhro saat menaggapi pertanyaan Anggota Komisi XI DPR RI pada fit and proper test Calon Deputi Gubernur BI, JUmat (23/1/2026).

Advertisement

Menurut Solikin, angka kredit yang selama ini menjadi indikator geliat ekonomi belum menunjukkan respons kuat meski pemerintah dan BI telah menggelontorkan likuiditas besar-besaran. “Permasalahan utama bukan terletak pada pasokan uang, melainkan pada permintaan kredit yang masih lesu,” tegas Solikin.

Solikin menjelaskan terminologi M0 atau “embrio uang” yang merupakan utang otoritas moneter kepada masyarakat dan cikal bakal penciptaan uang, tidak otomatis berubah menjadi kredit produktif jika tidak diikuti oleh permintaan yang kuat di sektor riil ekonomi.

Baca Juga  Bursa Malaysia Dibuka Menguat, Investor Abaikan Tekanan Wall Street

“Ini bukan hanya soal berapa banyak uang yang masuk ke sistem, tapi siapa yang mau meminjam dan menanamkan modalnya,” ujarnya di hadapan legislator.

Data yang disampaikan dalam sesi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menempatkan dana hingga sekitar Rp276 triliun ke bank-bank BUMN sebagai bagian dari upaya memperluas kredit.

Namun hingga akhir tahun 2025, pertumbuhan kredit perbankan hanya mencapai 9,69% secara tahunan, jauh dari target yang diharapkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.

Di sisi Bank Indonesia, otoritas moneter juga telah menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial hampir mencapai Rp398 triliun kepada berbagai kelompok bank sampai awal Januari 2026.

Baca Juga   Harga Minyak Dunia Naik, Ketegangan Timur Tengah Jadi Pemicu

“Insentif dan penempatan dana sebenarnya sudah sangat besar. Tapi bank-bank masih berhitung, menimbang sektor mana yang layak disalurkan kredit karena permintaan di pasar belum cukup kuat,” jelas Solikin.

Solikin menyoroti ketidakseimbangan antara supply dan demand kredit sebagai faktor penting yang perlu diperbaiki. Menurutnya, langkah untuk menambah pasokan likuiditas harus diimbangi dengan kebijakan yang menguatkan permintaan kredit.

Salah satu jalur yang menurut dia perlu diperkuat adalah debottlenecking, yaitu, upaya menghapus kendala operasional di dunia usaha agar permintaan kredit bisa meningkat.

“Dalam KSSK, kita memahami bahwa debottlenecking bukan sekadar berbicara soal stabilitas keuangan, tapi bagaimana ekonomi bisa menyerap kredit secara nyata,” kata Solikin.

Baca Juga  Prabowo Sentil Pengusaha: Jangan Kebiasaan Minta Restrukturisasi Kredit

Komisi XI DPR RI dijadwalkan melanjutkan uji kelayakan terhadap beberapa calon Deputi Gubernur lainnya pekan depan. (A18)

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini