Sementara itu, Arini Subianto berada di posisi ke-33 dengan kekayaan US$2,4 miliar.
Setelah meneruskan bisnis keluarga milik Benny Subianto, Arini dikenal aktif mengembangkan investasi ke sektor startup teknologi.
Nama lain yang masuk daftar adalah Jenny Quantero dengan kekayaan US$1,4 miliar serta Hartati Murdaya dengan kekayaan sekitar US$1,25 miliar.
Meski berasal dari latar belakang berbeda, kelima perempuan ini memiliki pola yang sama: fokus membangun bisnis jangka panjang, aktif dalam tata kelola perusahaan, serta berani membaca peluang di sektor yang belum banyak dilirik.
Marina Budiman misalnya, menghabiskan lebih dari dua dekade membangun ekosistem teknologi sebelum industri data center berkembang pesat seperti sekarang.
Sementara Dewi Kam melihat peluang besar di sektor energi saat banyak investor belum melirik bisnis tersebut.
Di sisi lain, daftar ini juga menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan dalam dunia bisnis besar Indonesia masih terbatas.
Dari lima nama tersebut, hanya Marina Budiman yang benar-benar membangun bisnis dari nol secara mandiri di sektor teknologi.
Namun demikian, meningkatnya jumlah perempuan dalam daftar orang terkaya Indonesia dinilai menjadi sinyal positif bagi perkembangan kepemimpinan perempuan di dunia usaha nasional.
Bagi pelaku UMKM, kisah lima pengusaha perempuan ini memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya ditentukan modal besar, tetapi juga keberanian membaca peluang, disiplin membangun usaha, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini