MENU
Saat Teduh Abba Home Family: Bersinar di Tengah Kegelapan Dunia
WA FB
Religi

Saat Teduh Abba Home Family: Bersinar di Tengah Kegelapan Dunia

F Editor : Ferry SP Sinamo | 05 Jan 2026 | 12:22 WIB
Saat Teduh Abba Home Family: Bersinar di Tengah Kegelapan Dunia
Pastor Dion Panomban

Oleh: Pastor Dion Panomban Di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian, pertanyaan mendasar kerap muncul dalam hati banyak orang: masih mungkinkah kita bersinar di tengah kegelapan?

Berbagai bencana, malapetaka, dan peristiwa tak terduga terjadi silih berganti.

Kebakaran besar yang menimbulkan kerugian hingga triliunan rupiah, krisis sosial, ekonomi, dan keamanan membuat banyak orang kebingungan, bahkan kehilangan arah tentang apa yang harus dilakukan.

Namun, di tengah kondisi itulah iman Kristen mengajarkan bahwa terang tetap dapat dinyatakan.

Melalui refleksi Saat Teduh Abba Home Family pada Senin, 5 Januari 2026, disampaikan bahwa ada tiga langkah sederhana yang dapat dilakukan agar setiap orang percaya tetap bersinar di tengah kegelapan dunia.

*Pertama*

, memelihara hubungan yang intim dengan Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan menjadi sumber kekuatan utama ketika situasi di sekitar tidak menentu.

*Kedua* , menjaga hubungan yang baik dengan pasangan, anak, keluarga, dan sesama. Relasi yang sehat menciptakan damai sejahtera dan menjadi kesaksian nyata di tengah dunia yang rapuh.

*Ketiga* , memelihara iman agar tetap teguh, tidak goyah oleh ketakutan, berita buruk, atau tekanan hidup.

Landasan perenungan ini diambil dari Mazmur 27:1–5, di mana Daud dengan tegas menyatakan imannya:

“TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?

TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur 27:1, TB)

Daud menggambarkan Tuhan sebagai terang, keselamatan, dan benteng hidupnya. Meski dikepung musuh, menghadapi ancaman, bahkan peperangan, Daud tidak membiarkan ketakutan menguasai hatinya. Ia memilih untuk tetap percaya dan berlindung kepada Tuhan.

Keyakinan Daud bukan tanpa alasan. Dalam ayat-ayat berikutnya, ia menegaskan bahwa Tuhan sanggup melindungi, menyembunyikan, dan mengangkat hidupnya di atas gunung batu pada waktu bahaya.

Fokus Daud bukan pada ancaman, melainkan pada kerinduannya untuk tinggal dalam hadirat Tuhan dan menikmati kemurahan-Nya sepanjang hidup.

Melalui firman ini, setiap pribadi diajak untuk melakukan refleksi diri:

1. Siapakah Tuhan dalam hidup kita saat ini?

2. Apakah Ia sungguh menjadi terang dan keselamatan seperti yang dialami Daud?

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.