Sakahara menuju lokasi penemuan jenazah, yang sebelumnya digunakan sebagai salah satu dasar utama untuk menyatakan dirinya bersalah.
Kasus Sakahara kini menjadi simbol perjuangan melawan salah vonis di Jepang.
Desakan reformasi semakin menguat, termasuk usulan undang-undang yang akan membatasi kemampuan jaksa untuk mengajukan banding terhadap putusan yang mengabulkan persidangan ulang.
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mendukung langkah tersebut. Menurutnya, sistem peradilan harus mampu memberikan keadilan dengan cepat bagi mereka yang mungkin dihukum secara keliru.
Kasus ini mengingatkan publik pada perkara terkenal lain, yakni Iwao Hakamata, yang dibebaskan setelah menghabiskan lebih dari 46 tahun di penjara akibat pengakuan yang diduga dipaksakan.
Sementara itu, Sakahara kini berpotensi menjadi salah satu contoh paling memilukan dalam sejarah salah vonis Jepang, karena kesempatan membersihkan namanya baru datang setelah ia meninggal dunia. (A08)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.