Jakarta, Sinata.id – Thomas Cup 2026 mulai digelar hari ini, Jumat (24/4/2026).
Tim bulu tangkis Indonesia vs Aljazair akan mengawali laga di Grup D.
Laga akan dilangsungkan di Forum Horsens, Horsens, Denmark pada Jumat malam pukul 23.30 WIB.
Salah satu tunggal putra, Anthony Sinisuka Ginting diharapkan turun dan menjadi tulang punggung.
Dua bulan setelah terakhir tampil di lapangan dan pulih dari cedera bahu serta punggung, Anthony kini berada dalam posisi tak biasa.
Jika sebelumnya dikenal sebagai andalan tunggal pertama atau kedua, kali ini Ginting datang dengan status berbeda.
Dalam ranking internal tim Merah Putih, ia berada di bawah Jonatan Christie, Alwi Farhan, dan Moh. Zaki Ubaidillah yang tampil impresif dalam beberapa bulan terakhir.
Situasi itu membuat peluang Ginting dimainkan sejak awal pertandingan masih terbuka dan sangat bergantung pada strategi tim.
Namun, pebulu tangkis asal Cimahi tersebut menegaskan dirinya sudah siap secara fisik maupun mental.
“Kondisi saya sekarang sangat bagus. Tidak ada cedera sama sekali. Saya hanya perlu menjaga tubuh lebih baik dari sebelumnya, tapi untuk Thomas Cup saya merasa sangat siap,” ujar Ginting dilansir dari BWF.
Meski minim pertandingan musim ini, nilai lebih Ginting terletak pada pengalaman besar di ajang beregu.
Ia pernah menjadi bagian penting saat Indonesia merebut gelar Thomas Cup 2020, dan kini diyakini bisa menjadi kartu truf di laga-laga krusial.
Dalam pertandingan beregu, posisi tunggal ketiga sering menjadi penentu, terutama saat laga memasuki fase gugur.
Menurut Ginting, kekuatan utama di posisi itu bukan sekadar teknik, melainkan ketenangan menghadapi tekanan.
“Persiapan utamanya mental. Secara permainan tidak ada yang berbeda, tapi cara berpikir di lapangan sangat menentukan. Yang penting tenang dan tidak terlalu banyak berpikir,” katanya.
Ia menambahkan, terlalu memikirkan tekanan justru bisa menimbulkan rasa cemas. Karena itu, respons di lapangan harus dibangun menjadi refleks melalui latihan dan kesiapan mental.
Selain fokus pada diri sendiri, Ginting juga menyoroti pentingnya membaca dinamika pertandingan beregu yang penuh kejutan.
Susunan pemain lawan bisa berubah sewaktu-waktu, seperti potensi yang dimiliki tim Prancis yang bisa menukar pemain tunggal dan ganda.
“Kami harus siap dengan skenario terburuk. Misalnya tertinggal 0-2 lebih dulu. Kalau tidak siap secara mental, itu bisa mengejutkan saat pertandingan,” ujarnya.
Indonesia sendiri datang ke Thomas Cup dengan kombinasi menarik antara pemain senior dan generasi muda.
Nama-nama seperti Alwi Farhan, Ubaidillah, Raymond Indra, dan Nikolaus Joaquin dipadukan dengan pengalaman Jonatan Christie, Ginting, serta Fajar Alfian.
Menurut Ginting, tugas pemain senior bukan hanya bertanding, tetapi juga menjaga keseimbangan emosi para pemain muda agar tidak terlalu larut dalam euforia turnamen besar.
“Setiap hari kami mengingatkan pemain muda untuk mengontrol emosi, ekspektasi, dan semangat mereka. Anak muda biasanya penuh api, tapi harus tetap seimbang. Kami harus menenangkan mereka,” tutup Ginting.
Dengan pengalaman dan mental juara yang dimilikinya, Ginting bisa menjadi faktor pembeda bagi Indonesia dalam misi merebut kembali trofi Thomas Cup. (A08)









Jadilah yang pertama berkomentar di sini