MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
Pekerja IT “Siluman” Korea Utara Menyusup ke Perusahaan Barat, Kripto...
WA FB
News

Pekerja IT “Siluman” Korea Utara Menyusup ke Perusahaan Barat, Kripto Rp13,5 Triliun Diduga Disedot

R Editor : Redaksi Sinata | 16 Mar 2026 | 17:50 WIB
Pekerja IT “Siluman” Korea Utara Menyusup ke Perusahaan Barat, Kripto Rp13,5 Triliun Diduga Disedot
Ilustrasi. (Ist)

Jakarta, Sinata.id – Sebuah laporan terbaru mengungkap dugaan operasi rahasia yang melibatkan jaringan pekerja teknologi informasi (IT) dari Korea Utara yang menyamar sebagai profesional digital di perusahaan-perusahaan Barat. Dari operasi senyap ini, nilai kripto yang berhasil dikumpulkan diperkirakan mencapai USD 800 juta atau sekitar Rp13,56 triliun.

Skema tersebut disebut tidak menggunakan serangan siber yang rumit seperti peretasan langsung, melainkan metode yang jauh lebih halus: menyusup sebagai tenaga kerja jarak jauh di perusahaan teknologi internasional.

Dalam laporan yang beredar di kalangan analis keamanan siber, warga Korea Utara disebut direkrut atau ditempatkan sebagai pekerja IT di berbagai perusahaan Barat dengan memanfaatkan identitas palsu.

Para pekerja ini diduga menggunakan dokumen identitas curian, kredensial profesional yang dimanipulasi, hingga profil digital yang dipalsukan agar terlihat seperti talenta teknologi dari negara lain.

Begitu berhasil lolos seleksi dan mendapatkan pekerjaan, mereka memperoleh bayaran tinggi dari perusahaan tempat mereka bekerja.

Pendapatan tersebut kemudian tidak dinikmati secara pribadi, melainkan dialirkan kembali ke pemerintah di Pyongyang, menjadikannya salah satu sumber pemasukan devisa bagi rezim tersebut.

Seorang pekerja dalam jaringan ini bahkan disebut bisa memperoleh hingga USD 200.000 per tahun, angka yang kemudian disalurkan kembali ke negara asalnya.

Operasi ini disebut semakin sulit dilacak karena memanfaatkan teknologi terbaru.

Laporan tersebut menyebut para pelaku menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengubah tampilan wajah, suara, bahkan aksen saat wawancara kerja secara virtual. Dengan teknologi itu, identitas palsu mereka terlihat lebih meyakinkan di depan perekrut perusahaan.

Setelah berhasil diterima bekerja, sebagian pelaku tidak hanya menjalankan tugas normal sebagai pengembang atau teknisi IT.

Skema ini membuat operasi tersebut tidak hanya menjadi kasus pencurian kripto, tetapi juga ancaman spionase digital lintas negara.

Investigasi juga menemukan bahwa jaringan pekerja IT ini tidak hanya beroperasi dari Korea Utara.

Operasi tersebut disebut memiliki jejak aktivitas di berbagai negara, termasuk Vietnam, Laos, hingga Spanyol, yang diduga menjadi titik operasi atau perantara jaringan tersebut.

Tag :
ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.