Dana tersebut berasal dari pengelolaan kas pemerintah atau cash management sehingga tidak akan mengganggu kondisi fiskal negara.
Ia menjelaskan intervensi di pasar obligasi penting dilakukan untuk menahan lonjakan yield SBN yang berpotensi memicu capital loss bagi investor asing.
Jika yield meningkat terlalu tinggi, investor asing dikhawatirkan menarik modalnya dari Indonesia dan memperbesar tekanan terhadap rupiah.
βDengan sentimen positif, biasanya asing juga akan turut masuk ke pasar,β katanya dilansir dari Antara.Β
Langkah pemerintah ini dilakukan setelah nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Senin menjadi Rp17.668 per dolar AS, dibandingkan sebelumnya Rp17.597 per dolar AS.
Sebelumnya, pada 12 Mei 2026 lalu, Purbaya juga telah menyatakan kesiapan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar obligasi demi membantu meredam tekanan terhadap mata uang rupiah.
Pemerintah berharap intervensi aktif di pasar obligasi dapat memperkuat kepercayaan investor sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini