Oleh : PS Dion Ponomban
Renungan saat teduh Abba Home Family pada Rabu, 17 Juni 2026, mengangkat tema tentang penghakiman Allah, kehidupan orang benar, serta peringatan terhadap kesesatan rohani berdasarkan pembacaan Alkitab dari pasal Surat Yudas 1:9-13.
Dalam pengantar renungan disampaikan bahwa penghukuman Allah atas Sodom dan Gomora terjadi karena begitu banyak keluhan terhadap kejahatan penduduknya. Bahkan, menurut kisah Alkitab, Allah tidak menemukan sepuluh orang benar di kota tersebut.
Renungan itu juga menyoroti kegagalan Lot dan keluarganya menjadi terang bagi lingkungan sekitarnya. Disebutkan bahwa calon menantu Lot bahkan mengolok-olok peringatan tentang datangnya hari penghukuman.
Melalui pembacaan Surat Yudas 1:9-13, umat diajak memahami beberapa peringatan penting mengenai sikap hidup manusia yang menjauh dari kehendak Tuhan.
Pada ayat 9 dijelaskan tentang penghulu malaikat Mikhael yang berselisih dengan Iblis mengenai mayat Musa. Meski memiliki kuasa, Mikhael tidak menghakimi dengan kata-kata hujatan, melainkan menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dengan berkata, “Kiranya Tuhan menghardik engkau.” Ayat ini dipahami sebagai pelajaran tentang kerendahan hati dan pentingnya menyerahkan penghakiman kepada Allah.
Sementara itu, ayat 10 menerangkan bahwa kebinasaan terjadi karena manusia menghujat sesuatu yang tidak mereka pahami. Mereka lebih mengikuti hawa nafsu dan naluri duniawi tanpa hikmat rohani, sehingga akhirnya jatuh dalam kehancuran.
Dalam ayat 11, penulis surat menyebut tiga tokoh sebagai gambaran kesesatan manusia, yakni Kain, Bileam, dan Korah.
Kain dikenal karena iri hati dan membunuh saudaranya sendiri. Bileam menjadi simbol orang yang tergoda keuntungan materi dan menyimpang dari kehendak Tuhan. Sedangkan Korah melambangkan pemberontakan terhadap otoritas Allah.
Ayat 12 kemudian menggambarkan mereka sebagai “noda dalam perjamuan kasih”, karena hadir di tengah persekutuan namun hanya mementingkan diri sendiri. Mereka diibaratkan seperti awan tanpa air dan pohon yang tidak berbuah, yang menunjukkan kehidupan rohani yang kosong dan tidak membawa berkat bagi orang lain.
Renungan ini menjadi pengingat agar setiap orang percaya tetap hidup dalam kebenaran, menjaga kasih, dan menjadi terang di tengah lingkungan sekitarnya.
“Di tengah dunia yang semakin kehilangan arah, Tuhan tetap mencari orang-orang benar yang hidup dalam kasih, kebenaran, dan kesetiaan. Jadilah terang yang membawa damai, bukan bagian dari gelap yang mendatangkan penghukuman.” (A27)
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.