Jakarta, Sinata.id — Laju harga emas dunia kembali mencetak rekor baru di tengah gejolak geopolitik global yang memuncak akibat serangan udara besar-besaran yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Lonjakan pasar ini terjadi ketika investor di seluruh dunia beralih ke aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi dan konflik bersenjata yang terus berkembang.
Dalam perdagangan terakhir pekan lalu, harga emas dunia dikabarkan melonjak dari kisaran USD5.182 per troy ounce dan menembus level lebih dari USD5.278, mencatat kenaikan signifikan tertinggi dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Iran Bersumpah Balas Keras AS dan Israel Usai Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei
Aset logam mulia ini terus menjadi pilihan utama investor yang mencari tempat berlindung di saat pasar global mengalami tekanan tajam akibat eskalasi di Timur Tengah.
Investor Beralih ke “Safe Haven” di Tengah Konflik
Para analis pasar internasional mencatat bahwa ketegangan geopolitik yang memuncak — termasuk konflik antara AS, Israel, dan Iran — telah memicu lonjakan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Menurut pengamat global, harga emas bisa terus meningkat jika konflik meluas dan situasi tidak segera mereda.
“Saat perang menjadi nyata di pasar geopolitik, investor cenderung mengalihkan portofolio mereka ke aset yang tahan terhadap gejolak, dan emas adalah yang paling utama,” kata seorang analis yang dikutip media internasional.
Dampak Langsung di Pasar Indonesia
Reaksi pasar global juga tercermin di pasar domestik Indonesia. Harga emas batangan di Pegadaian melesat signifikan pada Minggu, 1 Maret 2026, dengan emas UBS mencapai sekitar Rp3.123.000 per gram, naik tajam dari pekan sebelumnya. EMI serupa terlihat di unit penjualan lain seperti Galeri 24 dan Antam.
Di sisi lain, langkah ini juga mempengaruhi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, dengan sejumlah laporan menyebut bahwa mata uang domestik cenderung tertekan saat permintaan terhadap aset aman meningkat secara global.
Tren Harga dan Prospek Pasar
Penguatan emas ini terjadi bersamaan dengan kekhawatiran pasar terhadap energi dan komoditas lain seperti minyak mentah, yang juga diproyeksikan mengalami gejolak karena potensi gangguan pasokan melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz. Para ekonom memperkirakan bahwa ketidakpastian hubungan diplomatik dan konflik bersenjata akan terus menopang harga emas di level tinggi dalam beberapa pekan mendatang.
Seiring berjalannya konflik dan respons dari berbagai negara, para pelaku pasar diprediksi akan terus memperhatikan setiap perkembangan baru — mulai dari respons Iran, perubahan kebijakan energi global, hingga keputusan pasar dalam menentukan kapan tekanan terhadap aset aman akan mereda. [a46]









Jadilah yang pertama berkomentar di sini