MENU
📍Siantar 📍Simalungun 📍Medan 📍Singkil 📍Taput 📍Sibolga
Kinerja FAST 2025: Rugi Turun, Utang Naik dan Gerai KFC Menyusut
WA FB
Ekonomi & Bisnis

Kinerja FAST 2025: Rugi Turun, Utang Naik dan Gerai KFC Menyusut

J Editor : Jansen Siahaan | 19 Apr 2026 | 15:48 WIB
Kinerja FAST 2025: Rugi Turun, Utang Naik dan Gerai KFC Menyusut
Salah satu gerai KFC. (kfc)

Jakarta, Sinata.id – Emiten pengelola jaringan KFC dan Taco Bell di Indonesia, PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), masih mencatatkan kinerja negatif sepanjang tahun 2025, meski kerugian berhasil ditekan dibandingkan tahun sebelumnya.

Seperti dilansir Minggu (19/4/2026), berdasarkan laporan keuangan, FAST membukukan rugi bersih sebesar Rp366,04 miliar pada 2025. Angka tersebut menyusut 54,05 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan rugi Rp796,71 miliar pada periode sebelumnya.

Sementara itu, penjualan dan pendapatan usaha tercatat sebesar Rp4,88 triliun hingga akhir 2025, naik tipis 0,11 persen dibandingkan Rp4,87 triliun pada tahun sebelumnya.

Secara rinci, pendapatan FAST berasal dari segmen makanan dan minuman Rp4,86 triliun, komisi penjualan konsinyasi Rp16,91 miliar, da jasa layanan antar Rp2,25 miliar.

Di sisi lain, beban pokok penjualan berhasil ditekan menjadi Rp1,99 triliun dari sebelumnya Rp2,03 triliun. Hal ini mendorong laba bruto naik menjadi Rp2,88 triliun dari Rp2,84 triliun.

Namun, tekanan masih terlihat pada beban operasional. Beban penjualan tercatat Rp2,60 triliun, meski turun dari Rp2,71 triliun. Beban umum dan administrasi juga turun menjadi Rp665,33 miliar dari Rp690,45 miliar.

Di sisi lain, beban keuangan meningkat menjadi Rp90,06 miliar dari Rp81,45 miliar. Sementara itu, pendapatan lain-lain naik signifikan menjadi Rp156,83 miliar dari Rp63,00 miliar, sehingga membantu menahan tekanan kinerja.

Setelah memperhitungkan seluruh komponen, perusahaan mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp397,54 miliar, membaik dari Rp862,55 miliar pada tahun sebelumnya.

Utang Meningkat dan Risiko Keuangan

Di tengah perbaikan rugi, tekanan justru datang dari sisi struktur keuangan. Utang bank jangka panjang FAST melonjak tajam menjadi Rp1,82 triliun pada 2025, dari sekitar Rp353 miliar pada tahun sebelumnya.

Auditor juga menyoroti adanya ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha (going concern). Hal ini terlihat dari liabilitas jangka pendek yang melebihi aset lancar hingga Rp1,3 triliun, serta akumulasi kerugian yang telah mencapai Rp507 miliar.

FAST juga melakukan penyesuaian jaringan usaha. Jumlah gerai tercatat turun menjadi 690 outlet pada akhir 2025, dari 715 outlet pada 2024, atau berkurang sekitar 25 gerai.

Meski demikian, perusahaan tetap agresif melakukan belanja modal. Arus kas untuk aktivitas investasi mencapai Rp1 triliun, yang sebagian besar digunakan untuk penambahan aset tetap dan renovasi gerai.

ADVERTISEMENT

Komentar (0)

1000 Karakter tersisa
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.