Jakarta, Sinata.id — Sinyal “lampu kuning” mulai menyala di pasar-pasar tradisional. H-10 menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, harga bahan pangan strategis tercatat merangkak naik di hampir seluruh provinsi. Kenaikan ini menjadi alarm bagi rumah tangga, sekaligus ujian bagi stabilitas pasokan jelang lonjakan konsumsi.
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia, Senin (9/2/2026), menunjukkan mayoritas komoditas utama bergerak naik—dari bawang, cabai, beras, hingga protein hewani. Kenaikan paling tajam datang dari kelompok cabai, yang kembali menjadi “pemicu panas” di dapur.
Cabai dan Bumbu Dapur Melonjak
Harga cabai rawit merah memimpin lonjakan dengan kenaikan 25,18% menjadi Rp80.300/kg. Disusul cabai merah keriting yang melonjak 17,90% ke Rp48.400/kg, dan cabai rawit hijau naik 8,24% menjadi Rp56.500/kg.
Sementara cabai merah besar justru sedikit terkoreksi ke Rp39.650/kg.
Di lini bumbu, bawang merah menembus Rp46.850/kg (naik 8,45%), sedangkan bawang putih mencapai Rp42.250/kg (naik 4,58%).
Beras Menguat, Protein Ikut Terdorong
Harga beras juga menguat di hampir semua kualitas. Beras kualitas bawah I naik ke Rp15.000/kg, medium I ke Rp16.150/kg, dan super I menjadi Rp17.200/kg.
Untuk protein, daging ayam ras kini Rp41.850/kg, sementara daging sapi kualitas I menyentuh Rp145.350/kg dan kualitas II Rp139.700/kg. Telur ayam ras ikut naik ke Rp33.100/kg.
Minyak, Gula, Ikut Naik
Kenaikan juga terlihat pada bahan pokok lain. Minyak goreng curah naik ke Rp19.550/kg, sedangkan minyak kemasan berada di kisaran Rp22.150–Rp23.000/kg. Gula pasir premium menyentuh Rp20.150/kg, dan gula lokal Rp18.700/kg.
Pola ini mencerminkan tekanan permintaan jelang Ramadhan, di saat distribusi dan pasokan diuji. Jika tren berlanjut, daya beli berpotensi tergerus, dan pemerintah dituntut bergerak cepat memastikan stok serta kelancaran logistik. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini