Tapanuli Selatan, Sinata.id – Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel), Gus Irawan Pasaribu, mengajak masyarakat Kecamatan Batang Toru untuk meninggalkan kebiasaan meminjam uang dengan bunga tinggi dan mulai memanfaatkan lahan kosong sebagai sumber penghasilan produktif.
Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Pengajian Akbar Bulanan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kecamatan Batang Toru di Desa Hapesong Lama, Kamis (4/6/2026).
Di hadapan ratusan jamaah, tokoh agama, unsur Forkopimcam, dan pengurus BKMT, Gus Irawan menegaskan bahwa pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sosial. Menurutnya, perubahan pola pikir dan peningkatan produktivitas masyarakat menjadi faktor penting dalam mempercepat kebangkitan ekonomi daerah.
Mengutip tausiah yang disampaikan Ustaz Hamdan Firdaus, Gus Irawan mengingatkan masyarakat untuk menjauhi tiga hal yang dapat berdampak buruk dalam kehidupan, yakni kesombongan, perilaku curang, dan kebiasaan berutang tanpa perencanaan yang matang.
“Kesombongan harus dijauhi, kejujuran harus dijaga, dan utang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.
Menurut Gus Irawan, dampak bencana yang melanda Tapanuli Selatan pada November 2025 masih memengaruhi kondisi perekonomian masyarakat. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Tapsel terus mendorong percepatan pemulihan melalui sektor pertanian, perikanan, dan peternakan.
Salah satu program yang tengah digencarkan adalah Gerakan Tanam 1.000 Hektare Jagung. Program tersebut dinilai memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan karena didukung pasar yang tersedia serta harga jual yang relatif stabil.
“Saya tidak ingin ada lahan yang dibiarkan menganggur. Tanah kosong harus produktif dan menghasilkan. Jagung memiliki nilai ekonomi yang baik serta dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat,” katanya.
Ia mencontohkan keberhasilan petani di kawasan Aek Sirara yang telah melaksanakan panen perdana jagung pascabencana. Dengan produktivitas sekitar 5,5 ton per hektare dan harga jual mencapai Rp6.500 per kilogram, komoditas tersebut dinilai mampu memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan.
Selain sektor pertanian, pemerintah daerah juga terus mengembangkan Program Gerakan Seribu Kolam sebagai bagian dari upaya mewujudkan swasembada pangan daerah. Gus Irawan meminta pemerintah desa membentuk Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dan memanfaatkan sungai maupun lubuk larangan untuk budidaya ikan.
Komentar (0)
Seluruh isi komentar merupakan tanggung jawab masing-masing pengguna dan berada di luar tanggung jawab redaksi. Komentar yang melanggar hukum akan ditindak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.