Info Market CPO
πŸ—“ Update: Jumat, 8 Mei 2026 |15:34 WIB |Volume: 0.5K β€’ 0.2K β€’ 2.6K β€’DMI β€’ LOCO NGABANG β€’ LOCO KEMBAYAN β€’ LOCO PARINDU β€’ FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K Β· DMI
15222 15200 (TON) 15131 (AGM) 15275 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K Β· DMI
15222 15100 (IMT/KJA) 15131 (AGM) 15275 KJA ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K Β· LOCO NGABANG
14782 14675 (MNA) 14500 (PBI) 14925 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.5K Β· LOCO KEMBAYAN
14772 14525 (MNA) 14400 (PBI) 14825 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K Β· LOCO PARINDU
14782 14600 (MNA) 14500 (PBI) 14925 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K Β· FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP masih mendominasi pada beberapa titik LOCO
  • Persaingan harga di DMI berlangsung ketat
  • Masih terdapat lokasi tanpa penawaran
πŸ‘₯Sumber: Internal Market CPO
Model
Nasional

BKSAP Bidik Penyelesaian Panja AI, Etika Jadi Prioritas

bksap bidik penyelesaian panja ai, etika jadi prioritas
Muhammad Husein Fadlulloh

Tangerang, Sinata.id – Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI menargetkan Panitia Kerja (Panja) Artificial Intelligence (AI) dapat dirampungkan paling lambat pada masa sidang DPR tahun depan.

Keberadaan Panja ini diharapkan mampu memberikan kontribusi berarti bagi DPR RI, terutama sebagai bahan awal dalam penyusunan regulasi terkait teknologi kecerdasan buatan.

Advertisement

Wakil Ketua BKSAP DPR RI, Muhammad Husein Fadlulloh, menyatakan bahwa Panja AI telah mengantongi gambaran awal yang cukup menyeluruh untuk disampaikan kepada komisi-komisi terkait.

BKSAP pun siap mengambil peran aktif dengan memberikan pandangan dan rekomendasi sebelum pembahasan undang-undang dilakukan secara resmi.

β€œKami menargetkan Panja AI bisa diselesaikan paling lambat pada masa sidang tahun depan. Saat ini kami sudah memiliki gambaran dan siap memberikan masukan kepada komisi terkait dalam proses penyusunan undang-undang ke depan,” ujar Husein di sela kegiatan BKSAP Days yang digelar di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Banten, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga  Dilema Kemanusiaan di Balik Kemandirian: Mengapa Indonesia Tolak Uluran Tangan Timur Tengah?

Husein menegaskan bahwa isu etika menjadi perhatian utama pada tahap awal pembahasan. Menurutnya, etika merupakan aturan dasar yang harus ditegaskan sebelum melangkah ke aspek teknis yang lebih rinci dan kompleks.

β€œHal pertama yang perlu ditekankan adalah aspek etika sebagai basic rule. Minimal, setiap produk atau informasi yang dihasilkan harus secara jelas menyebutkan bahwa itu merupakan hasil AI. Hal-hal mendasar seperti ini penting untuk diatur,” paparnya.

Ia juga mengakui bahwa pembahasan mengenai kecerdasan buatan bukan perkara mudah. Kompleksitas teknologi AI menuntut waktu yang cukup panjang, pendalaman materi, serta diskusi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kalangan akademisi, praktisi, hingga pembuat kebijakan.

Baca Juga  1,2 Juta Pekerja Indonesia Terancam Dampak Tarif Dagang AS

β€œDengan tingkat kerumitan yang ada, pembahasan AI memang membutuhkan waktu dan diskusi yang mendalam dengan banyak pihak,” tutupnya.

Melalui pembentukan Panja AI, BKSAP berharap dapat mendorong lahirnya kerangka regulasi yang mampu mengikuti perkembangan teknologi secara adaptif, sekaligus menjunjung tinggi prinsip etika, transparansi, dan perlindungan bagi masyarakat. (A18)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini