Jakarta, Sinata.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan tren positif pada perdagangan Kamis pagi (21/5/2026).
Mata uang Garuda berhasil bertahan di zona hijau seiring meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya sempat mengangkat penguatan dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange pukul 09.05 WIB, rupiah menguat 2 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp17.651 per dolar AS. Pergerakan tersebut melanjutkan apresiasi pada perdagangan sebelumnya, Rabu (20/5/2026), ketika rupiah ditutup menguat 52 poin setelah sempat tertekan di level Rp17.653 per dolar AS.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) tercatat naik tipis 0,06 persen ke level 99,153 pada perdagangan pagi ini, setelah sebelumnya mengalami koreksi cukup dalam dari posisi tertinggi dalam enam minggu terakhir.
Melansir data Kitco, pelemahan dolar AS pada perdagangan Rabu waktu setempat dipicu meningkatnya optimisme investor terkait konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat dikabarkan hampir mencapai kesepakatan penting dengan Iran untuk meredakan ketegangan politik di kawasan tersebut.
Donald Trump menyatakan proses negosiasi dengan Iran telah memasuki tahap akhir. Pernyataan itu langsung direspons pasar dengan aksi jual dolar AS yang kemudian memicu penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS atau US Treasury.
Namun, pelemahan dolar AS tertahan setelah risalah rapat Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) bulan April menunjukkan semakin banyak pejabat yang mendukung kenaikan suku bunga acuan guna menekan inflasi.
Sinyal kebijakan moneter yang cenderung ketat tersebut membuat indeks dolar kembali menguat tipis pada Kamis pagi.
Di pasar valuta asing global, sejumlah mata uang utama dunia bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Yen Jepang melemah 0,21 persen, sementara euro, poundsterling Inggris, dan dolar Australia tercatat menguat.
Secara keseluruhan, meredanya konflik di Timur Tengah memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk tetap stabil menghadapi tekanan dolar AS.
“Dolar AS juga sudah mendekati level teknis tertentu yang mengindikasikan bahwa koreksi atau penurunan nilai akan segera terjadi,” ujar Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex, Marc Chandler.
Strategi BJ Habibie Saat Krisis 1998 Kembali Disorot
Di tengah pelemahan rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.600 per dolar AS, publik kembali mengingat krisis moneter 1998 yang menjadi salah satu periode paling berat dalam sejarah ekonomi Indonesia.
Saat itu, rupiah sempat anjlok dari kisaran Rp2.000 hingga menembus Rp17.000 per dolar AS. Krisis tersebut memicu lonjakan inflasi, kebangkrutan perusahaan, gelombang PHK massal, hingga krisis perbankan nasional.
Setelah Soeharto mengundurkan diri pada Mei 1998, kepemimpinan nasional dilanjutkan oleh B. J. Habibie.
Pada masa pemerintahannya, Habibie melakukan sejumlah langkah strategis untuk memulihkan ekonomi nasional dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Salah satu kebijakan utama adalah restrukturisasi sektor perbankan nasional melalui rekapitalisasi bank dan konsolidasi empat bank pemerintah menjadi Bank Mandiri.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat independensi Bank Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 agar kebijakan moneter dapat berjalan lebih efektif.
Habibie juga melanjutkan kerja sama dengan International Monetary Fund (IMF) guna memulihkan kepercayaan investor asing terhadap Indonesia.
Langkah lainnya adalah memberikan jaminan terhadap dana simpanan masyarakat di perbankan nasional untuk mencegah kepanikan dan penarikan dana secara massal.
Di sektor sosial, pemerintah turut menjaga stabilitas harga bahan pokok dengan mempertahankan harga BBM bersubsidi dan tarif listrik agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Kombinasi kebijakan tersebut perlahan berhasil memulihkan stabilitas ekonomi nasional. Rupiah yang sebelumnya sempat terpuruk di atas Rp17.000 per dolar AS akhirnya menguat hingga berada di kisaran Rp6.550 per dolar AS pada masa pemerintahan Habibie. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini