Manchester, Sinata.id – Tidak banyak pemain yang bisa mengubah narasi karier mereka secepat dan sedramatis Casemiro di Manchester United. Dari hampir menjadi bahan ejekan, ia pergi sebagai pahlawan.
Gelandang Brasil berusia 34 tahun itu melakoni penampilan terakhirnya di Old Trafford melawan Nottingham Forest, Minggu ini — dilepas dengan nyanyian “one more year” yang menggema dari tribun. Semua orang tahu itu tidak akan terjadi. Tapi semua orang tetap menyanyikannya.
Titik Terendah
Satu tahun lalu, ceritanya sangat berbeda. Desember 2024, Casemiro nyaris tidak bisa masuk starting eleven.
Ruben Amorim bahkan terang-terangan menyebut pemain muda Toby Collyer lebih layak bermain di depannya.
Kritik Jamie Carragher — “tinggalkan sepak bola sebelum sepak bola meninggalkanmu” — terasa semakin relevan.
Tidak ada yang membantah. Tidak ada yang membelanya.
Tiga Bulan yang Mengubah Segalanya
Casemiro tidak merespons dengan kata-kata. Ia merespons dengan kerja keras. Tiga bulan penuh ia berjuang di balik layar — dan pada Maret 2025, ia kembali ke starting eleven untuk laga Liga Europa melawan Real Sociedad. Sejak saat itu, ia tidak pernah absen dari laga besar United.
“Mentalitasnya adalah terus, terus, terus maju,” katanya dalam wawancara bersama Rio Ferdinand.
“Saya mungkin tidak selalu bermain bagus — saya bukan robot. Tapi pertandingan berikutnya, saya berikan segalanya,” katanya dilansir dari BBC, Minggu (17/5/2026).
Performa pemulihannya begitu meyakinkan hingga ia dipanggil kembali ke skuad Brasil — dan kemungkinan besar akan menjadi kapten Carlo Ancelotti di Piala Dunia musim panas ini.
Warisan untuk Mainoo
Di luar lapangan, warisan terbesar Casemiro mungkin adalah pengaruhnya terhadap Kobbie Mainoo.










Jadilah yang pertama berkomentar di sini