Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Sains & Teknologi

Misteri Tembok Awan Raksasa Venus Terpecahkan, Dipicu Lompatan Hidrolik

misteri tembok awan raksasa venus terpecahkan, dipicu lompatan hidrolik
Ilustrasi Planet Venus. (bbcmagazine)

Pematangsiantar, Sinata.id – Misteri mengenai tembok awan raksasa sepanjang 6.000 kilometer yang menyelimuti planet Venus akhirnya berhasil diungkap para ilmuwan. Fenomena atmosfer masif yang bergerak mengelilingi planet tersebut setiap beberapa hari sekali ternyata dipicu oleh mekanisme yang mirip dengan aliran air di dasar wastafel.

Fenomena unik ini pertama kali ditemukan pada 2016 melalui misi Akatsuki milik Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang atau JAXA. Awan raksasa tersebut berada di ketinggian sekitar 50 kilometer di atas permukaan Venus dan membentang sejajar dengan garis khatulistiwa planet.

Advertisement

Selama hampir satu dekade, para peneliti dibuat penasaran oleh ukuran awan yang sangat besar, kecepatannya yang tinggi, serta tepian depannya yang terlihat sangat tajam.

Dipicu Fenomena Lompatan Hidrolik

Baca Juga  Harga MacBook Neo di Indonesia Mulai Rp 10 Jutaan, Ini Spesifikasi Lengkapnya

Melalui penelitian dan pemodelan matematika terbaru, tim astronom internasional menemukan bahwa fenomena itu disebabkan oleh “hydraulic jump” atau lompatan hidrolik.

Dalam ilmu dinamika fluida, lompatan hidrolik terjadi ketika cairan atau gas yang bergerak cepat tiba-tiba melambat dan berubah menjadi lebih tebal atau lebih dalam.

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saat air dari keran menghantam dasar wastafel. Air yang awalnya tipis dan bergerak cepat mendadak melambat serta melebar ketika menyebar ke permukaan.

Di Venus, proses tersebut dipicu oleh gelombang atmosfer besar yang bergerak ke arah timur dan dikenal sebagai gelombang Kelvin. Dengan diameter Venus mencapai sekitar 12.104 kilometer, gelombang sepanjang 6.000 kilometer itu menjadi salah satu gangguan atmosfer terbesar yang pernah diamati di tata surya.

Baca Juga  Kisi-Kisi TKA SMP 2026 Lengkap: Matematika & Bahasa Indonesia, Simulasi Resmi Dimulai

Lompatan Hidrolik Terbesar di Tata Surya

Ketika gelombang Kelvin melambat, proses tersebut memicu lompatan hidrolik yang menghasilkan aliran udara vertikal sangat kuat. Aliran ini kemudian mendorong uap asam sulfat naik hingga ketinggian 50 kilometer sebelum mengembun menjadi awan asam sulfat berukuran kolosal.

Pemimpin penelitian dari Universitas Tokyo, Takeshi Imamura, mengaku terkejut dengan hasil temuan tersebut.

Ia menyebut gangguan awan itu merupakan lompatan hidrolik terbesar yang pernah ditemukan di tata surya.

Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara proses horizontal berskala sangat besar dengan gelombang vertikal lokal yang kuat, sesuatu yang jarang ditemukan dalam dinamika fluida.

Tantangan Penelitian Berikutnya

Penemuan ini juga menjadi pertama kalinya fenomena lompatan hidrolik terdeteksi di planet selain Bumi. Para ilmuwan menilai kondisi tersebut membuktikan bahwa atmosfer planet lain dapat bekerja dengan cara yang sangat berbeda dibandingkan atmosfer Bumi.

Baca Juga  Blue Origin Kembangkan NEO Hunter, Misi Canggih Lindungi Bumi dari Asteroid

Atmosfer Venus sendiri didominasi karbon dioksida dengan tekanan permukaan mencapai 92 bar. Planet tersebut juga mengalami fenomena super-rotation, yakni kondisi ketika atmosfer berputar jauh lebih cepat dibandingkan rotasi planetnya.

Tim peneliti kini berencana memasukkan temuan tersebut ke dalam model iklim Venus yang lebih kompleks. Namun, mereka mengakui proses simulasi membutuhkan daya komputasi yang sangat besar, bahkan dengan bantuan superkomputer modern.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan secara resmi pada 24 April 2026 dalam Journal of Geophysical Research: Planets. (A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini