Info Market CPO
🗓 Update: Rabu, 13 Mei 2026 |18:41 WIB |Volume: 0.5K • 0.5K • 0.2K • 2.6K DMI • DMI • LOCO PARINDU • FOB PALOPO
HARGA CPO (ACC/WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
14975 14918 (AGM) 14907 (PAA) 15100 EUP ACC
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14535 14399 (MNA) 14400 (PBI) 14750 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 2.6K · FOB PALOPO
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • EUP mendominasi transaksi DMI Persaingan harga masih cukup kompetitif antar bidder Tender LOCO PARINDU berakhir WD Tender FOB PALOPO belum terdapat bidder
👥Sumber: Internal Market CPO
Model
Sains & Teknologi

Roket SpaceX Falcon 9 Diperkirakan Tabrak Bulan, Picu Kekhawatiran Sampah Antariksa

roket spacex falcon 9 diperkirakan tabrak bulan, picu kekhawatiran sampah antariksa
Ilustrasi Sampah Antariksa. (sampah)

Jakarta, Sinata.id – Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa bagian roket Falcon 9 milik SpaceX diperkirakan akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026.

Peristiwa tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi maupun wahana antariksa yang sedang beroperasi. Namun, insiden ini memicu perhatian para ilmuwan terkait persoalan sampah antariksa yang terus meningkat.

Advertisement

Tabrakan diperkirakan terjadi di wilayah perbatasan sisi dekat dan sisi jauh Bulan, dengan potensi membentuk kawah baru yang dinilai memiliki nilai ilmiah terbatas.

“Peristiwa ini tidak berbahaya bagi siapa pun, tetapi menunjukkan adanya kelalaian dalam pengelolaan sisa perangkat luar angkasa,” ujar astronom sekaligus pengembang perangkat lunak Project Pluto, Bill Gray, dikutip dari Live Science.

Baca Juga  2,86 Miliar Kredensial Bocor di 2026, Ini Modus Peretasan yang Wajib Diwaspadai

Kronologi Objek Roket

Objek yang menjadi perhatian adalah bagian atas (upper stage) roket Falcon 9 setinggi sekitar 13,8 meter. Roket tersebut diluncurkan pada awal 2025 untuk misi pengiriman wahana pendarat Bulan milik Firefly Aerospace (Blue Ghost) dan ispace Jepang (Hakuto-R).

Sejak peluncuran, bagian roket tersebut terus berada dalam orbit sistem Bumi–Bulan. Bill Gray mencatat objek itu telah diamati lebih dari 1.000 kali oleh berbagai survei asteroid selama satu tahun terakhir.

Berdasarkan perhitungan, tabrakan diperkirakan terjadi pada pukul 02.44 EDT atau siang hari waktu Indonesia Barat, di sekitar Kawah Einstein.

“Pergerakannya cukup dapat diprediksi karena hanya dipengaruhi gravitasi Bumi, Bulan, Matahari, dan planet lain,” jelas Gray.

Baca Juga  SpaceX Terciduk Pindahkan 2.495 Bitcoin Senilai Rp4,4 Triliun ke Alamat Misterius

Meski radiasi sinar Matahari dapat sedikit memengaruhi lintasan, para ahli menilai hal tersebut tidak akan mengubah waktu maupun lokasi tumbukan secara signifikan.

Dampak dan Kekhawatiran

Kecepatan tumbukan diperkirakan mencapai sekitar 8.700 km/jam, atau setara tujuh kali kecepatan suara di Bumi. Namun, kilatan cahaya akibat benturan diperkirakan terlalu redup untuk dapat diamati dari Bumi, bahkan menggunakan teleskop besar.

Meski tidak membahayakan infrastruktur manusia di Bulan, para ahli menilai kejadian ini menjadi peringatan penting terkait meningkatnya risiko sampah antariksa.

Dengan rencana berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan China, untuk membangun pangkalan permanen di Bulan, kepadatan lalu lintas antariksa diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Baca Juga  YouTube Down Global 18 Februari 2026, Ratusan Ribu Pengguna Terdampak

Para pakar antariksa mendorong lembaga dan perusahaan swasta untuk lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah luar angkasa, termasuk mengarahkan sisa roket ke orbit Matahari agar tidak menimbulkan risiko di sistem Bumi–Bulan. (kompas/A02)

 

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini