Jakarta, Sinata.id – Sebuah laporan terbaru mengungkapkan bahwa bagian roket Falcon 9 milik SpaceX diperkirakan akan menabrak permukaan Bulan pada 5 Agustus 2026.
Peristiwa tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi maupun wahana antariksa yang sedang beroperasi. Namun, insiden ini memicu perhatian para ilmuwan terkait persoalan sampah antariksa yang terus meningkat.
Tabrakan diperkirakan terjadi di wilayah perbatasan sisi dekat dan sisi jauh Bulan, dengan potensi membentuk kawah baru yang dinilai memiliki nilai ilmiah terbatas.
“Peristiwa ini tidak berbahaya bagi siapa pun, tetapi menunjukkan adanya kelalaian dalam pengelolaan sisa perangkat luar angkasa,” ujar astronom sekaligus pengembang perangkat lunak Project Pluto, Bill Gray, dikutip dari Live Science.
Kronologi Objek Roket
Objek yang menjadi perhatian adalah bagian atas (upper stage) roket Falcon 9 setinggi sekitar 13,8 meter. Roket tersebut diluncurkan pada awal 2025 untuk misi pengiriman wahana pendarat Bulan milik Firefly Aerospace (Blue Ghost) dan ispace Jepang (Hakuto-R).
Sejak peluncuran, bagian roket tersebut terus berada dalam orbit sistem Bumi–Bulan. Bill Gray mencatat objek itu telah diamati lebih dari 1.000 kali oleh berbagai survei asteroid selama satu tahun terakhir.
Berdasarkan perhitungan, tabrakan diperkirakan terjadi pada pukul 02.44 EDT atau siang hari waktu Indonesia Barat, di sekitar Kawah Einstein.
“Pergerakannya cukup dapat diprediksi karena hanya dipengaruhi gravitasi Bumi, Bulan, Matahari, dan planet lain,” jelas Gray.
Meski radiasi sinar Matahari dapat sedikit memengaruhi lintasan, para ahli menilai hal tersebut tidak akan mengubah waktu maupun lokasi tumbukan secara signifikan.
Dampak dan Kekhawatiran
Kecepatan tumbukan diperkirakan mencapai sekitar 8.700 km/jam, atau setara tujuh kali kecepatan suara di Bumi. Namun, kilatan cahaya akibat benturan diperkirakan terlalu redup untuk dapat diamati dari Bumi, bahkan menggunakan teleskop besar.
Meski tidak membahayakan infrastruktur manusia di Bulan, para ahli menilai kejadian ini menjadi peringatan penting terkait meningkatnya risiko sampah antariksa.
Dengan rencana berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan China, untuk membangun pangkalan permanen di Bulan, kepadatan lalu lintas antariksa diperkirakan akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
Para pakar antariksa mendorong lembaga dan perusahaan swasta untuk lebih bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah luar angkasa, termasuk mengarahkan sisa roket ke orbit Matahari agar tidak menimbulkan risiko di sistem Bumi–Bulan. (kompas/A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini