Tarutung, Sinata.id – Sentra pelestarian budaya Jabu Bonang – Toba Tenun merayakan hari jadinya yang ke-6 dengan penuh makna melalui acara sederhana namun hangat di Sopo Partungkoan, Tarutung, Tapanuli Utara, Selasa (21/4/2026).
Momentum ulang tahun ini menjadi penanda enam tahun perjalanan Jabu Bonang dalam menjaga warisan leluhur melalui helai demi helai tenun Batak Toba yang sarat nilai budaya dan identitas.
Dalam perayaan tersebut juga dilakukan peluncuran inovasi baru berupa pewarnaan ulos berbahan ampas kopi, sebagai langkah kreatif memadukan tradisi dengan konsep ramah lingkungan.
Selama enam tahun berdiri, Jabu Bonang – Toba Tenun dikenal sebagai ruang tumbuh bagi pelestarian tenun Batak Toba, sekaligus wadah pemberdayaan pengrajin lokal.
Keberadaannya tidak hanya menjaga teknik menenun tradisional, tetapi juga memperkenalkan kain khas Batak kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Ucapan selamat dan apresiasi turut disampaikan kepada para pendiri serta pengelola Jabu Bonang yang konsisten menjaga warisan budaya.
Secara khusus, penghargaan diberikan kepada Trisna Pardede atas dedikasinya dalam menggerakan Jabu Bonang.
Semangat yang diusung pada ulang tahun ke-6 ini adalah harapan agar Jabu Bonang terus berkembang, semakin menginspirasi, dan tenun Batak Toba semakin dicintai hingga tingkat dunia.
Diketahui, secara lebih spesifik aktivitas utama Jabu Bonang adalah untuk pelestarian Tenun Batak Toba.
Jabu Bonang fokus menjaga warisan leluhur melalui produksi dan pengembangan ulos serta kain tenun Batak Toba dengan teknik tradisional.
Kemudian, pemberdayaan penenun lokal. Menjadi wadah bagi para penenun, khususnya perempuan, untuk bekerja, berkarya, dan memperoleh penghasilan dari kerajinan tenun.
Inovasi Produk Wastra, mengembangkan desain baru, pewarna alami, hingga produk turunan berbasis tenun agar lebih modern dan diminati pasar luas.
Edukasi dan Wisata Budaya, sering menjadi tempat belajar tentang proses menenun, filosofi ulos, serta budaya Batak bagi wisatawan, pelajar, dan komunitas.
UMKM dan Industri Kreatif, karena menghasilkan produk bernilai jual, Jabu Bonang juga masuk dalam sektor UMKM/fashion-etnik/kriya nusantara.
Siapa Trisna Pardede
Trisna Pardede dikenal sebagai penggerak pelestarian tenun Batak, wirausaha muda, dan figur penting di balik pengembangan Jabu Bonang – Toba Tenun.
Namanya banyak muncul dalam kegiatan pemberdayaan penenun perempuan, inovasi pewarna alami, dan promosi wastra Batak ke tingkat nasional maupun internasional.
Biodata Singkat
Nama: Trisna Pardede
Tanggal lahir: 17 Juli 1986
Asal: Sumatera Utara
Pendidikan: Alumni Universitas Padjadjaran (FEB), juga disebut memiliki jenjang lanjutan di kampus tersebut.
Trisna dikenal sebagai inisiator/penggerak Jabu Bonang bersama timnya, rumah komunitas wastra yang berpusat di Pematangsiantar.
Ia juga pernah disebut sebagai Project Manager dan Managing Director dalam berbagai sumber publik.
Selama lebih dari satu dekade, Trisna aktif di kawasan Danau Toba dalam bidang pelestarian tenun Batak/Ulos, pemberdayaan perempuan penenun, pengembangan UMKM lokal, inovasi pewarna alami ramah lingkungan, promosi budaya Batak melalui fashion dan pameran.
Karya dan binaan komunitas yang ia dampingi disebut telah tampil di berbagai ajang seperti Indonesia Fashion Week, Jakarta Fashion Week, pameran wastra nasional lainnya dan promosi budaya hingga New York. (A08)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini