Pematangsiantar, Sinata.id – Matahari berada di ambang kehancuran, dan nasib umat manusia bergantung pada seorang ilmuwan yang terjebak di pesawat ruang angkasa sejauh 11,9 tahun cahaya dari Bumi meski ia bukan seorang astronot.
Film fiksi ilmiah inovatif Project Hail Mary kembali menambah daftar film sci-fi sukses di box office dalam portofolio Phil Lord dan Christopher Miller, yang dijadwalkan tayang pada 20 Maret.
Tokoh utama, guru sains Ryland Grace (Ryan Gosling), mendapati dirinya terlibat dalam misi luar angkasa yang jauh melampaui kapasitasnya. Hal ini bermula dari interaksi yang kurang menyenangkan dengan pejabat pemerintah, Eva Stratt (Sandra Hüller). Alur film bergerak maju-mundur antara penemuan ilmiah Grace di luar angkasa termasuk pertemuannya dengan makhluk asing tak terduga dan rangkaian peristiwa yang membawanya pada misi berisiko tinggi demi menyelamatkan Bumi.
Diadaptasi dari novel karya Andy Weir (2021) dengan judul yang sama, kesuksesan Project Hail Mary menjadi sinyal kuat meningkatnya persaingan film fiksi ilmiah pada 2026, menjelang perilisan Dune: Part Three yang juga sangat dinantikan.
“Saya pikir Ryan Gosling tampil sangat baik dalam memerankan Ryland Grace. Ia mampu menangkap sisi unik sekaligus emosional dari karakternya,” ujar Ethan Wilder, mahasiswa Sistem Informasi Manajemen, kepada FSView. “Film ini memang mirip dengan film sci-fi lain dari sisi konsep, tetapi memiliki keunikan dalam hubungan antara Rocky dan Grace.”
Di Balik Kesuksesan Box Office
Sejak trailer perdananya dirilis, perhatian penonton langsung tertuju pada karakter Rocky makhluk asing berbentuk unik menyerupai batu yang menjalin persahabatan dengan Grace. Keduanya bekerja sama untuk menemukan solusi atas ancaman kehancuran bintang di sistem masing-masing.
Menariknya, karakter Rocky tidak sepenuhnya bergantung pada efek CGI. Jason Ortiz berperan penting dalam menghadirkan interaksi nyata melalui penggunaan boneka, sehingga memberikan kesan lebih autentik. Tim produksi juga bekerja sama erat dengan Andy Weir untuk memastikan karakter tersebut sesuai dengan visi aslinya.
“Dedikasi untuk menghadirkan realisme, baik dari sisi sains maupun desain set dan properti, terasa sangat kuat,” ujar Landon Lay, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris.
Film ini juga dibuat tanpa penggunaan layar hijau atau biru. Seluruh adegan berlangsung di set pesawat ruang angkasa 360 derajat yang berfungsi penuh sebuah pencapaian teknis besar untuk film dengan anggaran mencapai 250 juta dolar AS.
Perbedaan Buku dan Film
Meski tetap setia pada tema utama, terdapat sejumlah perbedaan antara novel dan adaptasi filmnya. Salah satu yang paling menonjol adalah penyederhanaan detail ilmiah yang dalam versi buku dijelaskan secara lebih mendalam.
Selain itu, beberapa adegan tambahan juga dihadirkan dalam film, seperti momen Eva Stratt bernyanyi karaoke bersama para astronot sebelum misi dimulai.
“Saya pribadi lebih menyukai versi bukunya. Detail ilmiahnya sangat menarik dan menghibur, meski saya memahami keterbatasan durasi film,” tambah Wilder.
Isu Kemanusiaan dan Krisis Iklim
Project Hail Mary mengangkat tema besar tentang empati, kolaborasi, dan pengorbanan demi kepentingan bersama. Kisahnya diawali dengan kerja sama antarnegara untuk menyelamatkan Matahari dari kehancuran, menggambarkan pentingnya persatuan global.
Namun, pesan ini juga menjadi refleksi terhadap kondisi dunia saat ini. Kerja sama antara ilmuwan dan pemimpin politik dinilai masih belum cukup sigap dalam menghadapi krisis iklim, meski ancamannya semakin nyata. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini