Jakarta, Sinata.id — Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kini berada di garis depan pembiayaan program prioritas pemerintah. Dari sektor UMKM hingga proyek strategis, bank-bank BUMN diminta mempercepat penyaluran kredit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Langkah ini diperkuat oleh dukungan likuiditas besar, termasuk penempatan dana pemerintah yang membuat ruang ekspansi kredit semakin terbuka.
Dengan tambahan likuiditas tersebut, kemampuan bank untuk menyalurkan pinjaman meningkat signifikan, bahkan menjadi motor utama pembiayaan nasional.
Namun di tengah ekspansi agresif itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru mengeluarkan peringatan keras.
Regulator menekankan bahwa pertumbuhan kredit harus tetap diimbangi dengan manajemen risiko yang ketat. Jika tidak, lonjakan penyaluran justru bisa berujung pada peningkatan kredit bermasalah.
Data terbaru dikutip Rabu (18/3/2026) menunjukkan risiko ini bukan sekadar teori. Di sektor pembiayaan, rasio kredit bermasalah mulai merangkak naik hingga 2,72% pada awal 2026.
Angka ini menjadi sinyal awal bahwa kualitas kredit bisa tertekan jika ekspansi tidak dijaga.
Di sinilah dilema muncul. Di satu sisi, Himbara dituntut menjadi “mesin pertumbuhan” dengan mengguyur kredit ke sektor prioritas. Namun di sisi lain, bank harus tetap menjaga kualitas aset agar tidak terjebak dalam lonjakan kredit macet.
Pengamat perbankan sebelumnya sudah mengingatkan, penugasan besar dari pemerintah berpotensi menekan kualitas kredit jika tidak diimbangi kebijakan pendukung.
Artinya, semakin besar ekspansi, semakin besar pula risiko yang harus ditanggung.
Penyaluran kredit saat ini difokuskan pada sektor produktif seperti UMKM, perumahan, hingga proyek strategis nasional.
Langkah ini memang penting untuk mendorong ekonomi. Namun sektor-sektor tersebut juga memiliki tingkat risiko yang tidak kecil, terutama jika kondisi ekonomi global masih penuh ketidakpastian.
OJK menekankan pentingnya prinsip kehati-hatian, mulai dari seleksi debitur, pemantauan pembayaran, hingga manajemen portofolio kredit.
Tanpa itu, kredit yang hari ini mendorong pertumbuhan bisa berubah menjadi beban di masa depan. [a46]










Jadilah yang pertama berkomentar di sini