Info Market CPO
🗓 Update: Kamis, 30 April 2026 |18:09 WIB |Volume: 0.5K • 0.3K • 0.2K DMI • FOB TDUKU • LOCO PARINDU • LOCO KEMBAYAN • LOCO NGABANG • LOCO LUWU
HARGA CPO (WD)
Grade EUP WNI IBP CTR Winner
N5 N4 (N5)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15400 (AGM) 15450 - WD
N3 N4 (N3)
Vol: 0.5K · DMI
15312 15225 (KJA) 15205 15450 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.5K · FOB TDUKU
15112 (PRISCOLIN) 14995 (MM) 15000 (AGM) 15250 - WD
N6 N4 (N6)
Vol: 0.2K · LOCO PARINDU
14787 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.3K · LOCO KEMBAYAN
14762 14490 (MNA) 14500 (PBI) 15000 - WD
N13 N4 (N13)
Vol: 0.2K · LOCO NGABANG
14947 14490 (MNA) 14600 (PBI) 15100 - WD
N14 N4 (N14)
Vol: 0.5K · LOCO LUWU
- - - - - NO BIDDER
Catatan Pasar
  • Pasar cenderung melemah pada beberapa lokasi LOCO
  • Persaingan harga cukup ketat antar bidder
  • Masih terdapat beberapa grade tanpa penawaran
👥Sumber: Internal Market CPO
Advertisement
Model
Nasional

Banggar DPR Soroti Subsidi Belum Tepat Sasaran

banggar dpr soroti subsidi belum tepat sasaran
Said Abdullah (Parlementaria)

Jakarta, Sinata.id – Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menilai kebijakan subsidi pemerintah masih menghadapi persoalan ketidaktepatan sasaran. Kondisi ini dinilai perlu segera dibenahi agar anggaran negara benar-benar dinikmati oleh masyarakat yang membutuhkan.

Menurut Said, permasalahan utama dalam penyaluran subsidi saat ini adalah masih tingginya exclusion error dan inclusion error. Artinya, masih ada warga yang berhak menerima bantuan namun tidak mendapatkannya, sementara sebagian penerima justru berasal dari kelompok yang sebenarnya tidak berhak.

Advertisement

“Subsidi kita itu tingkat kesalahan penyalurannya masih cukup tinggi, baik dari sisi exclusion maupun inclusion error. Bahkan bisa mencapai sekitar 60 sampai 80 persen,” kata Said di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Baca Juga  Prabowo Unggah Momen Bersama Titiek Soeharto dan Didit Jelang Lebaran 2026

Ia menilai pemerintah perlu memperkuat sistem verifikasi penerima subsidi agar proses penyaluran menjadi lebih akurat. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan memanfaatkan teknologi identifikasi modern.

Said menyebut penggunaan sistem seperti sidik jari (fingerprint) maupun pemindaian retina mata dapat membantu memastikan bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.

“Penyaluran subsidi seharusnya didukung dengan sistem verifikasi yang jelas, misalnya menggunakan fingerprint atau bahkan retina mata, sehingga penerima subsidi benar-benar terdata dengan baik,” ujarnya.

Selain pembenahan sistem pendataan, Said juga mendorong pemerintah untuk mengevaluasi kelompok penerima subsidi, khususnya dari kalangan ekonomi atas maupun sektor industri.

Menurutnya, subsidi bagi kelompok yang secara finansial sudah mampu perlu ditinjau kembali agar tidak menambah beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca Juga  Kritik terhadap KUHP–KUHAP Dinilai Wajar, Adang: Demokrasi Menjamin Ruang Koreksi

“Subsidi untuk kelompok atas maupun industri sebaiknya segera dievaluasi, karena hal itu dapat menjadi beban tambahan bagi APBN,” tegas legislator Fraksi PDI Perjuangan tersebut.

Ia menambahkan, perbaikan tata kelola subsidi akan membuka ruang fiskal yang lebih sehat bagi pemerintah. Dengan demikian, anggaran negara dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Banggar DPR RI, kata Said, akan terus menjalankan fungsi pengawasan terhadap kebijakan fiskal pemerintah, termasuk memastikan program subsidi berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan demi menjaga stabilitas ekonomi nasional. (A18)

Sumber: Parlementaria

Advertisement

Komentar

Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini