Jakarta, Sinata.id – Pada awal Maret 2026, pasar energi internasional mencatat pergerakan signifikan pada harga minyak mentah yang menjadi indikator utama perekonomian global.
Kekhawatiran akan gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah, khususnya di jalur transit penting seperti Selat Hormuz, telah mendorong harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
Menurut data perdagangan terbaru, minyak mentah Brent sempat mencapai sekitar USD 82 per barel. Rata-rata harga diperkirakan masih bertahan di kisaran tinggi sepanjang pekan ini akibat memanasnya sentimen geopolitik.
Kenaikan harga ini dipicu eskalasi konflik yang melibatkan kekuatan besar di kawasan penghasil minyak utama dunia. Pasar menilai risiko terhadap pasokan akan tetap tinggi jika ketegangan tidak segera mereda.
Saham Energi Ikut Terdongkrak
Pergerakan tajam harga minyak berdampak langsung pada saham sektor energi di bursa global dan regional. Ketika harga minyak naik, banyak perusahaan produsen dan pengolah energi melihat prospek keuntungan yang lebih tinggi.
Baca juga:Serangan Israel ke Iran Picu Kekhawatiran Krisis Energi, Harga Minyak Dunia Meroket
Investor pun cenderung mengalihkan sebagian modal ke saham energi untuk memanfaatkan tren kenaikan komoditas tersebut. Namun, jika konflik berkepanjangan menekan pertumbuhan ekonomi global, sektor lain yang sensitif terhadap biaya energi berpotensi mengalami tekanan.
Sejumlah lembaga keuangan memperingatkan, apabila gangguan pasokan berlanjut, harga minyak bisa menembus USD 90 hingga USD 100 per barel, bahkan lebih tinggi dalam skenario ekstrem. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi global serta meningkatkan biaya produksi berbagai sektor industri.
Tren Kenaikan Sudah Terlihat
Sebelumnya, tren kenaikan sebenarnya sudah tampak. Data akhir Februari 2026 menunjukkan harga Brent berada di sekitar USD 71 per barel, sementara WTI juga bergerak di kisaran tinggi beberapa hari sebelum lonjakan terbaru.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik dan kebijakan produsen besar seperti OPEC+. Setiap gangguan pada jalur pengiriman minyak utama biasanya langsung memicu “risk premium”, yakni tambahan harga akibat meningkatnya risiko pasokan.
Sebaliknya, jika ketegangan mereda dan distribusi kembali normal, tekanan kenaikan harga berpotensi berkurang.
Baca juga:Qatar Kecam Keras Serangan Iran ke Pelabuhan dan Kapal Tanker Minyak
Sentimen Konflik Global Memanas
Kekhawatiran publik terhadap potensi konflik internasional yang lebih luas, termasuk spekulasi perang global, turut memperburuk sentimen pasar. Meski banyak analis menilai skenario tersebut masih bersifat spekulatif, ketidakpastian geopolitik tetap menjadi faktor dominan penggerak harga minyak.
Dikutip dari CNBC pada Senin (2/3/2026), pasar memperkirakan peluang 79 persen bahwa harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) dapat mencapai setidaknya USD 73 per barel atau lebih.
Harga minyak mentah AS sebelumnya ditutup di USD 67,02 per barel pada Jumat, setelah naik sekitar 17 persen sepanjang tahun ini. Sementara itu, Brent ditutup di USD 73,21 per barel atau menguat sekitar 20 persen sejak awal tahun.
Faktor Kunci: Lalu Lintas di Selat Hormuz
Reaksi pasar minyak ke depan sangat bergantung pada kelancaran lalu lintas tanker di Selat Hormuz, yang merupakan titik krusial perdagangan energi global.
Analis UBS, Henri Patricot, menilai pemulihan arus kapal dan respons Iran akan menjadi penentu utama arah harga dalam beberapa hari mendatang.
Sementara itu, Donald Trump menyatakan operasi militer akan terus berlangsung hingga target AS tercapai, meski ia juga membuka peluang dialog dengan Iran.
Baca juga:Minyak Rusia–Iran Dibanting Harga, Stok Mengambang di Laut China
Di tengah situasi tersebut, lalu lintas kapal tanker dilaporkan melambat karena perusahaan pelayaran mengambil langkah antisipatif.
Risiko Lonjakan Lebih Tinggi
Menurut data Kpler, lebih dari 14 juta barel minyak per hari diperkirakan melewati Selat Hormuz pada 2025 sekitar sepertiga ekspor minyak global via laut.
Analis UBS bahkan memperingatkan gangguan besar dapat mendorong harga spot Brent melonjak hingga di atas USD 120 per barel dalam skenario terburuk.
Dengan dinamika yang terus berkembang, pelaku pasar diminta mencermati setiap perkembangan geopolitik untuk mengukur dampak jangka panjang terhadap harga minyak mentah dan stabilitas ekonomi global. (A02)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini