Oleh: Pdt Dr Gilbert Lumoindong, MT.h
Kehidupan manusia kerap diwarnai oleh pengalaman masa lalu, baik yang membanggakan maupun yang menyisakan luka. Namun, dalam perspektif iman Kristen, masa lalu bukanlah tempat untuk berdiam, melainkan pelajaran untuk melangkah maju. Pesan itu ditegaskan dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi, khususnya Filipi 3:1–16, yang menekankan pentingnya meninggalkan beban masa lalu dan berfokus pada tujuan rohani di depan.
Paulus mengingatkan bahwa manusia sering terjebak dalam cara pandang yang tidak seimbang. Ada yang terlalu memandang ke atas tanpa tanggung jawab, ke bawah tanpa mengandalkan Tuhan, ke depan tanpa langkah nyata, atau terus menoleh ke belakang dengan kekecewaan. Padahal, kehidupan yang dikehendaki Tuhan adalah kehidupan yang seimbang: bergantung kepada-Nya, setia menjalankan tanggung jawab, memiliki pengharapan ke depan, dan belajar dari masa lalu tanpa terikat olehnya.
Dalam suratnya, Paulus menegaskan bahwa hidup orang percaya adalah hidup yang terus bergerak menuju tujuan. Ia sendiri memberi teladan dengan berkata bahwa ia melupakan apa yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan, untuk mengejar panggilan surgawi dalam Kristus. Sikap ini menunjukkan bahwa iman tidak hanya berbicara tentang pengakuan, tetapi juga tentang langkah nyata untuk bertumbuh.
Memandang masa lalu secara berlebihan dapat membuat seseorang kehilangan arah. Fokus yang keliru dapat mengaburkan tujuan hidup, mengikat diri pada kegagalan atau keberhasilan lama, serta menghambat keberanian untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Akibatnya, iman menjadi lemah karena perhatian tertuju pada pengalaman, bukan pada janji Tuhan.
Karena itu, kehidupan Kristen menuntut keberanian untuk belajar dari masa lalu tanpa terjebak di dalamnya. Masa lalu menjadi guru, bukan penjara. Pengharapan akan masa depan menjadi pendorong, bukan sekadar angan-angan. Dengan iman yang teguh, setiap orang percaya dipanggil untuk melangkah maju, menatap hari ini dengan kesetiaan, dan menyongsong hari esok dengan keyakinan.
Sebagaimana tertulis dalam Filipi 3:13–14, “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Sebuah pengingat bahwa iman sejati selalu bergerak maju dalam pengharapan. (A27)










Jadilah yang pertama berkomentar di sini